Misi dari gerakan wahabi sebenarnya hanya satu, yaitu memecah umat
islam. Dalam sepak terjangnya, wahabi berkilah dengan segala cara.
Hadits dimanipulasi, kitab-kitab ahlus sunnah banyak yang dirubah, semua
itu sebenarnya tak lain lagi hanya untuk menyokong gerakan mereka.
Namun kami selalu yakin bahwa akan selalu ada generasi ahlus sunnah wal
jama'ah yang akan mampu mengoyak dan membongkar kedok mereka, menerobos
tembok-tembok muslihat mereka dengan hujjah yang tak terbantahkan.
Thursday, 10 May 2012
UNGKAP DOSA WAHABI.
Rabu
8 Syawal 1345 Hijriah bertepatan dengan 21 April 1925 mausoleum
(kuburan besar yang amat indah) di Jannatul al-Baqi di Madinah diratakan
dengan tanah atas perintah Raja Ibnu Saud. Siapa yang tidak tahu
sejarah berdarah wahabi? Atas perintah raja Ibnu Saud, Sekte buatan
yahudi ini Di tahun yang sama menghancurkan makam orang-orang yang
disayangi Rasulullah Saw (ibunda, istri, kakek dan keluarganya) di
Jannat al-Mualla (Mekah).
Penghancuran situs bersejarah dan
mulia itu oleh Keluarga al-Saud yang Wahabi itu terus berlanjut hingga
sekarang. Menurut beberapa ulama apa yang terjadi di tanah Arabia itu
adalah bentuk nyata konspirasi Yahudi melawan Islam, di bawah kedok
Tauhid. Sebenarnya, tujuan utamanya adalah secara sistematis ingin
menghapus pusaka dan warisan Islam yang masih tersisa agar Kaum Muslim
terputus dari sejarah Islam.
BEDAH KEBUSUKAN WAHABI.
Pembajakan
kitab tidak hanya dilakukan oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah di
Lebanon terhadap kitab Sirajut Thalibin karya Syekh Ihsan Jampes.
Belakangan diungkap beberapa manipulasi dalam kitab terbitan Timur
Tengah yang beredar di Indonesia.
Pengasuh Pondok Pesantren
Denanyar Jombang KH Aziz Masyhuri mengungkapkan, dalam kitab Al-Adzkar
terbitan Saudi Arabia, salah satu bagian penting yang menjelaskan
tentang ajaran tentang berdoa dengan perantara atau tawashul sengaja
dihapus, karena dianggap bertentangan dengan ajaran Wahabi. Padahal
kitab yang dikaji di berbagai pesantren itu ditulis oleh ulama Sunni
yang menganjurkan tawashul.
Tuesday, 17 April 2012
pemalsuan kitab oleh wahabi
Sejak abad dua belas Hijriah yang lalu, dunia Islam dibuat heboh oleh lahirnya gerakan baru yang lahir di Najd. Gerakan ini dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi dan populer dengan gerakan Wahabi. Dalam bahasa para ulama gerakan ini juga dikenal dengan nama fitnah al-wahhabiyah, karena dimana ada orang-orang yang menjadi pengikut gerakan ini, maka di situ akan terjadi fitnah. Di sini kita akan membicarakan fitnah Wahabi terhadap kitab-kitab para ulama dahulu.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa aliran Wahabi berupaya keras untuk
menyebarkan ideologi mereka ke seluruh dunia dengan menggunakan segala
macam cara. Di antaranya dengan mentahrif kitab-kitab ulama terdahulu yang tidak menguntungkan bagi ajaran Wahhabi. Hal ini mereka lakukan juga
Wednesday, 21 March 2012
Asy’ariyyah Bukan Ahlussunnah Kata Wahhabi
Oleh : Sultan Mahesa Jenar
Asy’ariyyah adalah sebutan bagi sebuah faham atau ajaran aqidah yang dinisbatkan kepada Syaikh Abul-Hasan Ali al-Asy’ari (Lahir dan wafat di Basrah tahun 260 H- 324 H.).
Para pengikutnya sering disebut dengan Asy’ariyyuun atau Ahlussunnah al-Asya’irah (Bukan mazhab al-Asy’ari, tapi yg mengikuti metode penanaman Aqidah Shohihah).
Abul-Hasan Ali Al-Asy’ari, yang kemudian dikenal sebagai pemersatu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, memiliki garis keturunan (garis ke-10) dari seorang Sahabat Rasulullah Saw. yang terkenal keindahan suaranya dalam membaca al-Qur’an, yaitu Abu Musa al-Asy’ari. Beliau lahir 55 tahun setelah wafatnya al-Imam Syafi’I, dan Abul-Hasan al-Asy’ari adalah pengikut Mazhab Syafi’i.
Kaum USILIYYUN telah terang-terangan menyatakan bahwa Asy’ariyyah bukan Ahlussunnah, seperti dalam artikel:
http://ahlussunnah.info/2009/12/29/artikel-ke-29-asy%E2%80%99ariyyah-bukan-ahlus-sunnah/8/
.
Asy’ariyyah menurut kaum Usiliyyun wal Jama’ah adalah bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah, melainkan aliran bid’ah yang harus dijauhi. Perhatikanlah fatwa-fatwa ulama Salafi & Wahabi berikut ini:
SYAIKH ABDULLAH BIN ABDURRAHMAN AL-JIBRIN (ulama Usiliyyun)berkata:
“Kemudian muncul juga kelompok yang lain, dan mereka menyebut dirinya Asy’ariyah. Mereka mengingkari sebagian sifat Allah dan menetapkan sebagian yang lain. Mereka menetapkan sifat-sifat tersebut berdasar kepada akal. Maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan bid’ah dan perkara baru dalam agama Islam” (Ensiklopedia Bid’ah, hal. 140).
“Tetapi, apakah Asya’irah dan Maturidiyah itu Ahlussunnah, ataukah mereka termasuk Ahli Kalam? Hakikatnya, mereka ini termasuk Ahli Kalam. Mereka (Kaum Asy’ariyyah) bukan termasuk Ahlussunnah, walaupun mereka ahlul-millah, ahli qiblah (umat Islam). Dikarenakan al-Asya’irah dan Maturidiyah itu menyelisihi Ahlussunnah Wal-Jama’ah” ( lihat Majalah As-Sunnah, edisi 01/tahun XII, April 208, hal. 35).
Ungkapan di atas adalah sebuah fitnah dan penipuan besar terhadap Asy’ariyyah, sebab tidak seorang pun dari ulama yang menyatakan hal seperti itu kecuali kaum Usil & Jahil.
Hal ini lebih di sebabkan Metode Imam Asy’ari yg meyakini adanya Ayat-ayat Mutasyabihat, yg harus di takwil sesuai ayat Laisa Kamistlihi Syaiun
Namun anehnya, Syeikh Super Man mereka, Ya’ni Ibnu Taymiyyah dalam menuturkan tentang Asy’ariyyah, pernah berkata :
والعلماء أنصار علوم الدين والأشاعرة أنصار أصول الدين ( الفتاوى الجزء الرابع)
“PARA ULAMA ADALAH PEMBELA ILMU AGAMA DAN AL-ASYA’IRAH PEMBELA DASAR-DASAR AGAMA (USHULUDDIN) “ (AL-FATAAWAA, JUZ 4)
Secara tidak langsung Ibnu Taimiyah masih mengakui Asy’ariyyah termasuk bagian dari Ahlussunnah Wal-Jama’ah terutama pada pendapat-pendapat yang ia anggap sejalan dengan prinsip al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ ulama salaf.
Sedangkan kaum Salafi & Wahabi belakangan lebih cenderung menganggap Asy’ariyyah sebagai aliran sesat yang bukan termasuk Ahlussunnah Wal-jama’ah.
Perhatikanlah pernyataan para ulama berikut ini:
إِذَا أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ فَالْمُرَادُ بِهِ اْلأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ (إتحاف سادات المتقين، محمد الزبدي، ج. 2، ص. 6)
“Apabila disebut nama Ahlussunnah secara umum, maka maksudnya adalah Asya’irah (para pengikut faham Abul Hasan al-Asy’ari) dan Maturidiyah (para pengikut faham Abu Manshur al-Maturidi” (Ithaf Sadat al-Muttaqin, Muhammad Az-Zabidi, juz 2, hal. 6.).
وأما حكمه على الإطلاق وهو الوجوب فمجمع عليه في جميع الملل وواضعه أبو الحسن الأشعري وإليه تنسب أهل السنة حتى لقبوا بالأشاعرة ( الفواكه الدواني، أحمد النفراوي المالكي، دار الفكر، بيروت، 1415، ج: 1 ص 38):
“Adapun hukumnya (mempelajari ilmu aqidah) secara umum adalah wajib, maka telah disepakati ulama pada semua ajaran. Dan penyusunnya adalah Abul Hasan Al-Asy’ari, kepadanyalah dinisbatkan (nama) Ahlussunnah sehingga dijuluki dengan Asya’irah (pengikut faham Abul Hasan al-Asy’ari)” (Al-Fawakih ad-Duwani, Ahmad an-Nafrawi al-Maliki, Dar el-Fikr, Beirut, 1415, juz 1,hal. 38).
كذلك عند أهل السنة وإمامهم أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي (الفواكه الدواني ج: 1 ص: 103 )
“Begitu pula menurut Ahlussunnah dan pemimpin mereka Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi” (Al-Fawakih ad-Duwani, juz 1 hal. 103)
وأهل الحق عبارة عن أهل السنة أشاعرة وماتريدية أو المراد بهم من كان على سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فيشمل من كان قبل ظهور الشيخين أعني أبا الحسن الأشعري وأبا منصور الماتريدي (حاشية العدوي، علي الصعيدي العدوي، دار الفكر، بيروت، 1412 ج 1، ص.151 )
“Dan Ahlul-Haqq (orang-orang yang berjalan di atas kebenaran) adalah gambaran tentang Ahlussunnah Asya’irah dan Maturidiyah, atau maksudnya mereka adalah orang-orang yang berada di atas sunnah Rasulullah Saw., maka mencakup orang-orang yang hidup sebelum munculnya dua orang syaikh tersebut, yaitu Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi” (Hasyiyah Al-’Adwi, Ali Ash-Sha’idi Al-’Adwi, Dar El-Fikr, Beirut, 1412, juz 1, hal. 105).
والمراد بالعلماء هم أهل السنة والجماعة وهم أتباع أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي رضي الله عنهما (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح، أحمد الطحطاوي الحنفي، مكتبة البابي الحلبي، مصر، 1318، ج. 1، ص4 ).
“Dan yang dimaksud dengan ulama adalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah, dan mereka adalah para pengikut Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi radhiyallaahu ‘anhumaa (semoga Allah ridha kepada keduanya)” (Hasyiyah At-Thahthawi ‘ala Maraqi al-Falah, Ahmad At-Thahthawi al-Hanafi, Maktabah al-Babi al-Halabi, Mesir, 1318, juz 1, hal. 4).
PERNYATAAN PARA ULAMA DI ATAS MENUNJUKKAN BAHWA TUDUHAN DAN FITNAHAN KAUM USIL WAL JAHIL TERHADAP ASY’ARIYYAH ADALAH TIDAK BENAR DAN MERUPAKAN KEBOHONGAN YANG DIADA-ADAKAN.
DI SATU SISI MEREKA MENGELIMINASI (MENIADAKAN) ASY’ARIYYAH
DARI DAFTAR KUMPULAN AHLUSSUNNAH WAL-JAMA’AH, DI SISI LAIN MEREKA MALAH DENGAN YAKINNYA MENYATAKAN DIRI SEBAGAI KELOMPOK AHLUSSUNNAH WAL-JAMA’AH YANG SEBENARNYA.
Subscribe to:
Posts (Atom)