Sunday, 29 January 2012

KEJANGGALAN KAUM SALAFI & WAHABI DALAM BERDALIL

Berargumen dengan dalil adalah merupakan suatu keharusan dalam menetapkan suatu kesimpulan hukum di dalam agama, terlebih lagi yang menyangkut urusan ibadah. Menurut kesepakatan para ulama, dalil yang dapat dijadikan dasar pelaksanaan suatu amalan di dalam agama ada empat (4) sumbernya, yaitu (secara kronologis): 1. al-Qur'an 2. Sunnah 3. Ijma' 4.Qiyas. Artinya, bila suatu perkara tidak ditemukan penunjukkan langsungnya di dalam al-Qur'an, maka dirujuklah kepada Hadis atau Sunnah Rasulullah Saw., dan bila juga tidak ditemukan, maka dirujuklah ijma' (kesepatakan) para ulama mujtahid berdasarkan isyarat-isyarat al-Qur'an dan Hadis, dan bila juga tidak ditemukan maka digunakanlah ijtihad lain yang disebut qiyas yaitu perbandingan/persamaan suatu perkara dengan perkara-perkara yang disebut di dalam al-Qur'an atau yang pernah terjadi di masa Rasulullah Saw. dan para Shahabat beliau. (Lihat Kaidah-kaidah Hukum Islam, DR. Abdul Wahhab Khallaf, Penerbit Risalah, Bandung, 1985, hal. 18-21).

Digunakannya ijma' dan qiyas (yang mana keduanya erat dengan pendekatan akal/logika) saat tidak ditemukan hukum suatu perkara di dalam al-Qur'an dan Sunnah, tidak berarti menganggap bahwa wahyu Allah dan Hadis Rasulullah Saw. tersebut memiliki kekurangan. Justeru di sinilah perencanaan Allah Swt. yang Maha Sempurna berlaku, di mana pada satu sisi manusia dibekali petunjuk pasti yang sangat mendetail di dalam al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw. yang wajib ditaati, sedang di sisi lain (pada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw. tersebut) manusia hanya dibekali prinsip-prinsip dasar, baik dalam bentuk global maupun isyarat yang penerapannya dapat berlaku di sepanjang zaman dan tempat. Pada sisi inilah Allah Swt. sengaja memberikan peran bagi akal manusia, di mana manusia itu disuruh (bahkan dihargai) untuk menggunakan akalnya agar dapat memahami prinsip dasar dan isyarat al-Qur'an atau Sunnah lalu menerapkannya sesuai keadaan hidup manusia yang selalu mengalami perubahan dan perkembangan secara alamiah di setiap tempat dan masa, dan manusia memang ditakdirkan berubah dan berkembang keadaan hidupnya. Bukankah ini sebuah perencanaan yang sempurna dalam ciptaan Allah Swt.; Ia ciptakan akal manusia, Ia beri panduan umum dan khusus, lalu Ia suruh manusia menggunakan akal tersebut dan memberinya penghargaan?

Bayangkan, betapa sia-sianya akal yang sudah diciptakan Allah Swt. ini, bila segala permasalahan hidup manusia semuanya disebutkan dengan mendetail di dalam al-Qur'an atau Sunnah; betapa tebalnya lembaran-lembaran kitab suci al-Qur'an bila harus memuat seluruh permasalahan manusia sesuai perubahan dan perkembangannya di setiap masa dan tempat mulai dari masa diciptakannya Nabi Adam As. sampai hari kiamat.; dan sungguh dengan begitu Rasulullah Saw. tidak perlu mati, beliau harus dihidupkan terus oleh Allah sampai hari kiamat agar dapat memberikan penjelasan hukum yang pasti setiap kali ada masalah baru yang timbul dari sebab perubahan atau perkembangan keadaan dalam kehidupan manusia.

Dengan menyembunyikan hukum pasti di dalam al-Qur'an atau Sunnah, Allah telah memberi ruang kepada manusia untuk berijtihad dengan akalnya, tentunya dengan panduan prinsip-prinsip yang telah diberikan di dalam al-Qur'an dan Sunnah. Di sinilah rahmat Allah Swt. berlaku bagi terciptanya peluang ikhtiar sebagai obyek penilaian amal dan demi tercapainya kemaslahatan hidup manusia di dunia dan akhirat.

Tampaknya, bagi kaum Salafi & Wahabi, pendekatan akal seperti ijtihad atau ta'wil para ulama yang merupakan jalan bagi terwujudnya ijma' dan qiyas tidak berlaku (meskipun sebenarnya mereka juga berijtihad dengan caranya sendiri). Bagi mereka, tidak ada suatu kebaikan pun yang tidak diperkenalkan oleh Rasulullah Saw., sehingga segala amalan berbau agama haruslah didasarkan pada ajaran Rasulullah Saw., baik yang ada di Kitabullah (al-Qur'an) maupun Sunnah Rasulullah Saw. Pendapat ulama besar sekalipun mengenai perkara agama, bila tidak diiringi dalil khusus yang secara langsung menyebutkannya atau mendukungnya, hanya mereka anggap sebagai "pendapat manusia" yang bisa salah atau benar sehingga tidak dapat dijadikan dasar. Entah lupa atau tidak sadar, sepertinya para ulama sekaliber Imam Syafi'I atau Imam Nawawi saat mengutarakan pendapatnya, mereka anggap tidak lebih tahu tentang dalil dibandingkan diri mereka.

Prinsip seperti inilah yang sepertinya menjadikan pola pikir mereka "kasuistik", artinya terlalu tekstual dalam memahami dalil sehingga apa yang disebutkan oleh ayat al-Qur'an atau hadis secara khusus tentang suatu perkara harus dipahami dan diberlakukan apa adanya tanpa dikurangi atau ditambahi, dan apa saja yang tidak disebutkan secara khusus oleh dalil maka tidak boleh diberlakukan. Mestinya, mereka juga mengutarakan dalil khusus untuk "tidak membolehkan" perkara yang yang tidak disebutkan oleh dalil, tapi ternyata tidak demikian.

Di sinilah letak kejanggalannya. Di satu sisi kaum Salafi & Wahabi seperti sangat idealis dengan dalil yang dipahami secara tekstual sehingga setiap amalan mereka selalu ada ayat atau hadis yang menunjukkan amalan itu secara khusus atau langsung, dan ini disebut "dalil khusus".

Namun di sisi lain, saat membahas berbagai amalan yang mereka vonis terlarang karena dianggap bid'ah (perkara baru yang diada-adakan), mereka tidak melakukan hal yang sama. Artinya, seharusnya mereka juga menyertakan dalil khusus yang tekstualnya menunjukkan larangan atau hukum bid'ah secara langsung untuk setiap perkara atau amalan yang mereka tuduh sebagai bid'ah itu. Tetapi dalam hal ini mereka justeru menggunakan segelintir "dalil umum".

Padahal, para ulama ushul (ahli dalam bidang dasar-dasar hukum agama) telah bersepakat bahwa setiap lafaz yang umum di dalam suatu dalil, secara bahasa akan mencakup segala hal yang terkandung oleh keumuman lafaz tersebut. Begitu pula bahwa lafaz yang umum pada suatu dalil itu tidak dapat diarahkan untuk menunjukkan satuan-satuan perkara tertentu, kecuali bila ada lafaz dalil yang mengkhususkannya (lihat Kaidah-kaidah Hukum Islam, DR. Abdul Wahhab Khallaf, Penerbit Risalah, Bandung, 1985, hal. 111. Lihat juga Ushul al-Fiqh al-Islami, DR. Wahbah Zuhaili, Daar el-Fikr, Damaskus, 2006, hal. 244). Contohnya, kata kullu bid'atin dhalalah (setiap bid'ah/perkara baru adalah kesesatan) di dalam sebuah hadis adalah merupakan lafaz umum yang secara bahasa mencakup keseluruhan "perkara baru", sehingga tidak sah bila kata bid'ah itu diarahkan kepada perkara-perkara tertentu saja seperti tradisi peringatan Maulid Nabi Muhamamad Saw. atau acara tahlilan, kecuali bila ada dalil lain yang mengkhususkannya atau menunjukkan secara pasti bahwa yang dimaksud dalil umum itu adalah peringatan Maulid atau tahlilan.

Metodologi pembahasan dalil umum seperti ini tampaknya tidak digunakan oleh kaum Salafi & Wahabi dalam berfatwa terutama mengenai bid'ah, tentunya karena pola pikir "kasuistik" atau terlalu tekstual (harfiah) dalam memahami dalil. Maka tidak heran bila fatwa-fatwa mereka tentang bid'ah dihiasi oleh dalil-dalil umum atau yang berisi lafaz-lafaz umum yang maknanya dipaksakan mengarah pada kasus-kasus tertentu yang tidak pernah disebutkan secara khusus di dalam al-Qur'an atau hadis.

Terbukti, dari ratusan perkara yang mereka fatwakan sebagai bid'ah yang dilarang di dalam agama, mereka hanya mengandalkan 5 sampai 7 dalil yang kesemuanya bersifat umum. Dapat dibayangkan, bila fatwa-fatwa mereka tentang bid'ah ada 300 jumlahnya, maka dalil yang sama akan selalu disebutkan secara berulang-ulang sampai lebih dari 100 kali. Anda bisa buktikan itu di dalam buku "Ensiklopedia Bid'ah" karya Hammud bin Abdullah al-Mathar diterbitkan oleh Darul Haq Jakarta. Ini baru dari segi pengulangan dalil, belum lagi dari segi penyebutan dalil-dalil pendukung yang digunakan secara serampangan dan bukan pada tempatnya.

Tanpa metodologi yang telah dirumuskan oleh para ulama ushul, mustahil dapat dibedakan antara yang wajib dan yang tidak wajib di dalam agama, sebagaimana mustahil dapat dibedakan antara perkara yang prinsip (ushul /pokok) dan yang tidak prinsip (furu'/cabang). Luar biasanya, dari metodologi atau rumusan para ulama ushul tersebut, umat Islam di seluruh dunia telah merasakan manfaat yang sangat besar di mana Islam dapat diterima di berbagai wilayah dan kalangan meski berbeda-beda adat dan budayanya (misalnya seperti Wali Songo yang sukses berdakwah di Indonesia). Prinsip dasar argumentasi akal ini tentu bukan untuk memudah-mudahkan syari'at atau menetapkan syari'at baru, tetapi untuk mengambil kesimpulan hukum dari dalil-dalil yang ada, agar ajaran Islam dapat dipahami dan diamalkan dengan baik oleh umat Islam.


Kaum Salafi & Wahabi bahkan ada yang menganggap metodologi para ulama berupa ta'wil (penafsiran terhadap dalil) hanya membuat agama ini menjadi semakin tercemar dan tidak murni lagi karena dianggap sudah terkontaminasi oleh pendapat-pendapat manusia yang tidak memiliki wewenang untuk menetapkan syari'at, seperti halnya Nabi Saw. atau para Shahabat beliau. Jadi, segala urusan di dalam beragama harus dirujuk langsung kepada al-Qur'an & hadis apa adanya seperti yang tersebut secara tekstual. Maka, apa saja yang diamalkan di dalam agama yang secara tekstual (harfiah) tidak terdapat di dalam al-Qur'an atau hadis, otomatis dianggap tertolak dan dinyatakan sebagai sebuah penyimpangan atau kesesatan.

Di sinilah pangkalnya, kenapa kaum Salafi & Wahabi selalu mempermasalahkan amalan atau keyakinan orang lain, padahal amalan orang yang disalahkan itu hanyalah masalah furu' (cabang/tidak prinsip). Ini adalah akibat dari pemahaman mereka terhadap dalil secara harfiyah atau tekstual apa adanya, sehingga semua urusan dan amalan "berbau agama" dipandang oleh kaum Salafi & Wahabi sebagai perkara ushul (pokok/prinsip) yang jika tidak ada dalilnya dapat mengakibatkan sesat, syirik, atau kufur.

Padahal, untuk menentukan hukum sesat, syirik, atau kufur, mereka harus mendatangkan dalil-dalil yang pasti dan secara jelas menyebut demikian. Nyatanya, mereka malah menggunakan dalil-dalil umum. Dalil-dalil larangan bid'ah yang sangat diandalkan oleh kaum Salafi & Wahabi itulah yang akan kita bahas secara tuntas dalam buku/film dakwah ini, agar setiap orang dapat menilainya secara obyektif. Dan bila diklasifikasikan, maka dalil-dalil tersebut dapat kita kategorikan menjadi:

1. Dalil kewajiban mengikuti Sunnah Rasulullah Saw. dan para Shahabat beliau (Khulafa'ur Rasyidin)
2. Dalil perintah & larangan
3. Dalil sesatnya setiap bid'ah (perkara baru yang diada-adakan di dalam agama)

Wallahu a'lam

Friday, 20 January 2012

55 DALIL KESESATAN WAHABI DAN SALAFI

Assalamualaikum.

Saya ambil artikel ini adalah bertujuan untuk membongkar kedongengan dan mitos yang di bawa oleh al-Kazzab RASUL DAHRI. Moga penipuan dan pembohongan al-Kazzab RASUL DAHRI  akan dibongkar lagi oleh para Ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang masih sibuk dengan membanteras segala kaum-kaum sesat termasuklah Wahabi.

Puak Wahabi sering menunding jari kepada Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; dalam ISU TAKFIR, Menghina Ulama’ dan melakukan Perpecahan Ummat. BENAR KAMI MENGKAFIRKAN SESIAPA YANG BERAQIDAH TAJSIM; SEPERTI WAHABI, BENAR KAMI MENGUTUK KERAS PERBUATAN TIDAK AMANAH DAN KEJAM ULAMA’-ULAMA’ WAHABIYYAH MALAH KAMI TIDAK RAGU-RAGU MENGKAFIRKAN MEREKA KERANA AJARAN SESAT MEREKA BOLEH MEMESONGKAN MASYARAKAT UMUM, BENAR KAMI MEMECAHKAN WAHABI INI DARIPADA KAUM MUSLIMIN; KERANA MEREKA INI TIDAK DINILAI SEBAGAI ISLAM.

Adakah Puak Sesat Wahabi ini Lebih Baik dari Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, apabila kami lakukan perbuatan sebegini? Sudah tentu tidak; kerana puak sesat wahabi ini;

1.      Golongan yang membawa Aqidah Yahudi (Allah duduk@bersemayam).
2.      Golongan yang beriman kepada sesetengah ayat dan kafir dengan sesetengah ayat Al-Quran.
3.      Golongan yang menolak Takwil pada sesetengah ayat, dan membolehkan Takwil pada yang mengikut nafsu mereka.
4.      Golongan yang menafikan Kenabian Nabi Adam A.S.
5.      Golongan yang menyatakan bahawa Alam ini Qidam(Rujuk pandangan ibn Taimiyyah).
6.      Golongan yang mengkafirkan  Imam Abu al-Hasan Al-Asa’rie dan seluruh Ummat Islam yang berpegang kepada  method Aqidah yang telah disusuh oleh Imam tersebut.
7.      Golongan yang mengkafirkan Sultan Sholahuddin Al-Ayyubi dan Sultan Muhammad Al-Fateh.
8.      Golongan yang mengkafirkan Imam An-Nawawi dan Seluruh Ulama’ Islam yang mengikut (Asya’irah dan Maturidiyyah).
9.      Golongan yang mengdhoifkan hadi-hadis shohih dan mengshohihkan hadis-hadis dhoif (lihat penulisan Albani).
10.  Golongan yang tidak mempelajari ilmu dariGuru atau Syeikh, hanya membaca.
11.  Golongan yang mengharamkan bermusafir ke Madinah dengan niat ziarah Nabi Muhammad SAW.
12.  Golongan yang membunuh Ummat Islam beramai-ramai di Mekah, Madinah, dan beberapa kawasan di tanah Hijaz (lihat tarikh an-najdi).
13.  Golongan yang meminta bantuan Askar dan Senjata pihak Britain (yang bertapak di tempat; Kuwait pada ketika ini) ketika kalah dalam perang ketika mereka mahu menjajah Mekah dan Madinah.
14.  Golongan yang menghancurkan turath(sejarah peninggalan) Ummat Islam di Mekah dan Madinah.(lihat kawasan perkuburan Jannatul Baqi’, Bukit Uhud dan sebagainya)
15.  Golongan yang membenci kaum ahlul bait. (kononnya bagi wahabi; semua ahlul bait syiah@ sesat)
16.  Golongan yang bersalahan dengan Ijma’ para Shohabah, Tabi’in, Salaf, khalaf dan seluruh Ulama’ ASWJ.
17.  Golongan yang mendakwa Aqal tidakboleh digunakan dalam dalil syarak, dengan menolok fungsi Aqal.(ayat-ayat Al-Quran menyarankan menggunakan Aqal)
18.  Golongan yang mengejar syuhrah(pangkat, nama, promosi,kemasyhuran) dengan menggunakan fahaman salah mereka terhadap Al-Quran dan As-Sunnah. (Malah Al-Quran dan As-Sunnah bebas daripada apa yang wahabi war-warkan)
19.  Golongan yang mengdhoifkan hadis solat terawikh 20 rakaat.(Albani)
20.  Golongan yang mengharamkan menggunakan Tasbih.(Albani)
21.  Golongan yang mengharamkan berpuasa pada hari sabtu walaupun hari Arafah jatuh pada hari tersebut.(Albani)
22.  Golongan yang memperlecehkan Imam Abi Hanifah R.A.(Albani)
23.  Golongan yang mendakwa Allah memenuhi alam ini dan menghina Allah dengan meletakkan anggota pada Allah SWT.
24.  Golongan yang mendakwa Nabi Muhammad SAW tidak hayyan(hidup) di kubur Nabi Muhammad SAW.(Albani)
25.  Golongan yang melarang membaca “Sayyidina” dan menganggap perbuatan itu bida’ah sesat.
26.  Golongan yang mengingkari membaca Al-Quran ke atas  si mati dan membaca Talqin.
27.  Golongan yang melarang membaca selawat selepas azan.(Albani)
28.  Golongan yang mengatakan Syurga dan Neraka ini fana’(tidak akan kekal).(ibn Taimiyyah)
29.  Golongan yang mengatakan lafaz talaq tiga tidak jatuh, jika “aku talaq kamu dengan talaq tiga “. (ibn Taimiyyah.
30.  Golongan yang Mengisbatkan(menyatakan/menetapkan) tempat bagi Allah, mengatakan Allah turun seperti turunnya. (Ibn Taimiyyah)
31.  Golongan yang menggunakan wang ringgit untuk menggerakkan ajaran sesat mereka, membuat tadlis(penipuan dan pengubahsuaian) di dalam kitab-kitab ulama’ yang tidak bersependapat dengan mereka.
32.  Golongan yang mengkafirkan sesiapa orang Islam yang menetap di Palestine sekarang ini.(Albani)
33.  Golongan yang mengbid’ahkan seluruh ummat Islam.
34.   Golongan yang menghukumkan syirik terhadap amalan ummat Islam.
35.  Golongan yang membawa ajaranTauhid 3 dan tidak pernah diajar oleh Nabi Muhamad SAW. (Ibn Taimiyyah)
36.  Golongan yang mengatakan bahawa Abu Jahal dan Abu Lahab juga mempunyai Tauhid, tidak pernah Nabi Muhammad SAW ajar begini atau pun para Shohabah R.A. (Muhamad abd Wahab)
37.  Golongan yang membolehkan memakai lambang “salib” hanya semata-mata untuk mujamalah/urusan rasmi kerajaan, ianya tidak kufur. (Bin Baz)
38.  Golongan yang membiyayai kewangan Askar Kaum Kuffar untuk membunuh Ummat Islam dan melindungi negara mereka. (kerajaan Wahabi Saudi)
39.  Golongan yang memberi Syarikat-Syarikat Yahudi memasuki Tanah Haram.(Kerajaan Wahabi Saudi)
40.  Golongan yang memecahbelahkan Ummat Islam dan institusi kekeluargaan.
41.  Golongan yang mengharamkan Maulud dan bacaan-bacaan barzanji, marhaban.
42.  Golongan yang menghalalkan meletupkan diri atas nama jihad walaupun orang awam kafir yang tidak bersenjata mati. (selain di Palastine)
43.  Golongan yang menghalalkan darah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Asya’irah dan Maturidiyyah. Lihat di Lubnan, Chechnya, Algeria, dan beberapa negara yang lain.
44.  Golongan yang menimbulkan fitnah terhadap Ummat Islam dan memburukkan nama baik & murni Islam.
45.  Golongan yang membuat kekacauan di Fathani, Thailand.
46.  Golongan yang sesat menyesatkan rakyat Malaysia.
47.  Golongan yang meninggalkan ajaran dan ilmu-ilmu Ulama’ ASWJ yang muktabar.
48.  Golongan yang meninggalkan methodologi ilmu ASWJ.
49.  Golongan yang Minoriti dalam dunia, malah baru setahun jagung.
50.  Golongan yang menuduh orang lain dengan tujuan melarikan diri atau menyembunyikan kesesatan mereka.
51.  Golongan yang Jahil, tidak habis mempelajari ilmu-ilmu Agama, tetapi mahu buat fatwa sesuka hati.
52.  Golongan yang melarang bertaqlid, tetapi mereka lebih bertaqlid kepada mazhab sesat mereka.(sehinggakan solat pun guna mazhab Albani shj)
53.  Golongan yang secara zahirnya berjubah, berkopiah, singkat jubah, janggut panjang, tetapi berliwat, tidak menghormati ulama’, mengutuk para Alim Ulama’, tidak amanah dengan Ilmu dan Agama Islam.
54.  Golongan yang tiada hujjah dalam ajaran mereka.
55.  Golongan yang membawa jaran sesat Ibn Taimiyyah/Muhamad Ibn Abd Wahab, kedua-dua individu ini telah dicemuh, ditentang, dijawab dan dikafirkan oleh Jumhur Ulama’ ASWJ atas dasar Aqidah mereka yang Sesat

Sahabat-sahabat cukuplah 55 dalil kesesatan wahabi. Jika tidak percaya, terpulang.

Wassalam

Monday, 16 January 2012

TAUHID RUBUBIYYAH DAN TAUHID ULUHIYYAH WAHABI

Tauhid Rububiyyah.
Mari kita mulai dengan pembahasan singkat tauhid rububiyyah, yang menjelaskan kata ar-Rabb dengan arti Pencipta, hal ini sangat jauh dari apa yang dimaksud oleh Al-Qur’an. Sebenarnya arti kata ar-Rabb didalam bahasa dan didalam Al-Qur’an al-Karim tidak keluar dari arti “ Yang memiliki urusan pengelolaan dan pengaturan”. Makna umum ini sejalan dengan berbagai macam ekstensi (mishdaq)-nya, seperti pendidikan, perbaikan, kekuasaan, dan kepemilikan. Akan tetapi, kita tidak bisa menerapkan kata ar-Rabb kepada arti Penciptaan, sebagaimana yang dikatakan oleh golongan Wahabi/Salafi. Untuk membuktikan secara jelas kesalahan ini, marilah kita merenungkan ayat-ayat berikut ini, supaya kita dapat menyingkap arti kata ar-Rabb yang terdapat didalam Aal-Qur’an:

Surat Al Baqarah (2) : 21: “Wahai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu.”

Dalam surat Al Anbiyaa (21) : 56: “Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya “.

Jika kata ar-Rabb berarti Pencipta maka ayat-ayat diatas tidak diperlukan penyebutan kata yang telah menciptakanmu atau kata yang telah menciptakannya. Karena jika tidak, maka berarti terjadi pengulangan kata yang tidak perlu. Jika kita meletakkan kata al-Khaliq (Pencipta) sebagai ganti kata ar-Rabb pada kedua ayat di atas, maka tidak lagi diperlukan penyebutan kata yang telah menciptakanmu dan kata yang telah menciptakannya. Sebaliknya, jika kita mengatakan bahwa arti kata ar-Rabb adalah Pengatur atau Pengelola, maka disana tetap diperlukan penyebutan kata yang telah menciptakanmu dan kata yang telah menciptakannya. Sehingga dengan demikian, makna atau arti ayat yang pertama diatas ialah “sesungguhnya Zat yang telah menciptakanmu adalah pengatur urusanmu”, sementara arti pada ayat yang kedua ialah “Sesungguhnya pencipta langit dan bumi adalah penguasa dan pengatur keduanya “.

Adapun bukti-bukti yang menunjukkan kepada makna ini banyak sekali, namun tidak perlu diungkapkan dibuku ini karena akan membutuhkan cukup waktu untuk menjelaskannya secara rinci.Oleh karena itu, perkataan Muhammad Ibnu Abdul-Wahhab yang berbunyi “Adapun tentang tauhid rububiyyah, baik Muslim maupun Kafir mengakuinya” adalah perkataan yang tanpa dasar, dan jelas-jelas ditentang oleh nash-nash Al-Qur’an, yang firman-Nya:”Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu.” (QS. al-An’am: 164). Firman Allah swt. kepada Rasul-Nya ini tidak lain berarti agar beliau menyampaikan kepada kaumnya sebagai berikut: ‘Apakah engkau memerintahkan aku untuk mengambil Rabb (Tuhan) yang aku akui pengelolaan dan pengaturannya selain Allah, yang tidak ada pengatur selain-Nya sebagaimana engkau mengambil berhala-berhalamu dan mengakui pengelolaan dan pengaturannya’.

Jika semua orang-orang kafir mengakui bahwa pengelolaan dan pengaturan hanya semata-mata milik Allah –sebagai mana dikatakan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab– maka ayat Al-An’am itu tidak mempunyai arti sama sekali, sehingga hanya menjadi sesuatu yang sia-sia, na’udzu billah. Karena setiap manusia –berdasarkan sangkaan Muhammad bin Abdul Wahhab ini– baik muslim maupun kafir, semuanya mentauhidkan Allah didalam rububiyyahnya, maka tentu mereka tidak memerintahkan untuk mengambil Rabb selain Allah. Juga zaman sekarang yang kita lihat dan dengar sendiri banyak orang-orang kafir yang sama sekali tidak mengakui wujudnya/adanya Tuhan, apalagi mentauhidkan-Nya!

Terdapat juga ayat yang berkenaan dengan seorang yang beriman dari kalangan keluarga Fir’aun. Allah swt. berfirman didalam surat al-Mukmin [40]:28: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia mengatakan, ‘Rabbku ialah Allah’, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu”. Demikian juga, berpuluh-puluh ayat lainnya menguatkan bahwa kata ar-Rabb bukanlah berarti Pencipta, melainkan berarti Pengatur, yang di tangan-Nya terletak pengaturan segala sesuatu. Kata ar-Rabb dengan arti ini (yaitu Pencipta), sebagaimana ditekankan oleh ayat-ayat Al-Qur’an, tidak menjadi kesepakatan diantara anggota manusia. Muhammad bin Abdul Wahhab telah menukil pemikiran ini dari Ibnu Taimiyyah tanpa melalui proses pengkajian, sehingga bahaya yang ditimbulkannya atas kaum Muslimin sangat besar. Ibnu Taimiyyah tidak mengeluarkan pemikiran ini dari kerangka ilmiah. Berbeda dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, yang di tunjang oleh keadaan sehingga bisa melaksanakan pemikiran ini pada tataran praktis dan menerapkannya pada kaum Muslimin. Maka hasil dari semua ini ialah, mereka mudah mengkafirkan madzhab lain selain madzhab Wahabi.

Tauhid Uluhiyyah
Supaya lebih jelas, kita akan mengkaji pandangan Muhammad Abdul Wahhab mengenai seputar tauhid uluhiyyah. Yang dimaksud dengan tauhid uluhiyyah oleh kalangan Wahabi ialah bahwa ibadah semata-mata hanya untuk Allah swt., dan seseorang tidak boleh menyekutukan-Nya dengan yang lainnya di dalam beribadah kepada-Nya. Inilah tauhid yang menjadi tujuan diutusnya para Nabi dan para Rasul. Kita semua tidak ada keraguan sedikitpun tentang pemahaman ini. Namun, disana terdapat kekaburan mengenai istilah. Karena, didalam Al-Qur’an, Allah swt. bukanlah berarti al-ma’bud. Kita dapat menama- kan tauhid ini dengan tauhid ibadah. Namun demikian tidak ada masalah dengan istilah jika kita telah sepakat mengenai pemahamannya.Kaum Muslimin sepakat akan wajibnya menjauhkan diri dari ber-ibadah kepada selain Allah swt. dan hanya semata-mata kepada-Nya kita beribadah. Namun yang menjadi perselisih- an ialah mengenai batasan pengertian ibadah. Dan ini merupakan sesuatu yang paling penting didalam bab ini. Karena, inilah yang menjadi tempat tergelincirnya kaki golongan Wahabi/ Salafi. Jika kita mengatakan bahwa tauhid yang murni ialah kita mempersembahkan ibadah semata-mata kepada Allah swt., maka yang demikian tidak akan ada artinya jika kita tidak mendefenisikan terlebih dahulu pengertian ibadah, sehingga kita mengetahui batas-batasannya, yang tentunya akan menjadi tolak ukur yang tetap bagi kita untuk membedakan seorang muwahhid (yang bertauhid) dan seorang musyrik. Sebagai contoh, orang yang bertawassul kepada para wali menziarahi kuburan mereka, mengagungkan mereka, apakah termasuk seorang musyrik atau seorang muwahhid (bertauhid)? Sebelum kita menjawab, kita harus terlebih dahulu mempunyai ukuran yang dengannya kita dapat menyingkap ekstensi-ekstensi ibadah pada kenyataan diluar.

Golongan Wahab/Salafii menganggap, bahwa seluruh ketundukan, perendahan diri dan penghormatan adalah ibadah, ini pengertian yang salah! Golongan Wahabi/Salafi ini menganggap bahwa setiap bentuk ketundukan atau perendahan diri seorang pada sesuatu (Nabi Allah, Wali Allah dan sebagainya), orang tersebut dianggap sebagai hamba sesuatu tersebut, dilain kata dia telah menyembahnya. Dengan demikian berarti dia telah menyekutukan Allah. Menurut golongan ini bila seorang yang menempuh perjalanan yang jauh dengan tujuan untuk menziarahi Rasulallah saw., sehingga dapat mencium dan menyentuh makamnya yang suci, dengan tujuan bertabarruk (baca bab Tabarruk), maka dia terhitung sebagai orang kafir dan orang musyrik. Demikian juga halnya dengan orang yang mendirikan bangunan di atas kuburan, untuk menghormati dan mengagungkan orang yang dikubur didalamnya.

Golongan Wahab/Salafii menganggap, semua ketundukan....dan sebagainya yang telah dikemukakan diatas adalah ibadah dan penyembahan, ini pengertian yang salah ! Muhammad Ibnu Abdul Wahhab berkata pada salah satu risalahnya:
“.....Barangsiapa yang menginginkan sesuatu dari kuburan, pohon, bintang, para malaikat atau para Rasul, dengan tujuan untuk memperoleh manfaat atau menghilangkan bahaya, maka dia telah menjadikannya sebagai Tuhan selain Allah. Berarti dia telah berdusta dengan ucapannya yang berbunyi‘ Tidak ada Tuhan selain Allah’. Dia harus diminta bertaubat. Jika dia bertaubat, dia dibebaskan; namun jika tidak, maka dia harus dibunuh. Jika orang musyrik ini berkata, ‘Saya tidak bermaksud darinya kecuali hanya untuk bertabarruk, dan saya tahu bahwa Allah-lah yang memberikan manfaat dan mendatangkan madharat.’ Katakanlah kepadanya, ‘Sesungguhnya Bani-Israilpun tidak menghendaki kecuali apa yang kamu kehendaki’. Sebagaimana yang telah Allah swt. beritakan tentang mereka. Yaitu manakala mereka telah berhasil menyeberangi laut, mereka mereka mendatangi sebuah kaum yang tengah menyembah berhala mereka. Kemudian Bani Israil berkata berkata, ‘Hai Musa, buatkanlah untuk kami seorang Tuhan sebagaimana Tuhan-Tuhan yang mereka miliki’, kemudian Musa berkata, ‘Sesungguhnya kamu adalah kaum yang bodoh.’” (‘Aqa’id al-Islam, kumpulan surat-surat Muhammad bin Abdul Wahhab, hal.26).

Muhammad bin Abdul Wahhab juga berkata didalam risalahnya yang lain: “Barangsiapa yang bertabarruk kepada batu atau kayu, atau menyentuh kuburan atau kubah dengan tujuan untuk bertabarruk (mengambil barokah) kepada mereka, maka berarti dia telah menjadikan mereka sebagai Tuhan-Tuhan yang lain”. (‘Aqa’id al-Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, hal.26)

Selain dari Muhammad Abdul Wahhab ini, mari kita rujuk juga kata-kata seorang dari golongan Wahabi –Muhammad Sulthan al-Ma’shumi– terhadap kaum Muslimin yang meng-Esakan Allah dan sedang menziarahi kuburan Rasulallah saw. untuk bertabarruk kepada Nabi saw. sebagai berikut: "Pada kunjungan saya yang ke empat kekota Madinah, saya menyaksikan di Mesjid Nabawi disisi kuburan Rasulallah saw. yang mulia, banyak sekali terdapat hal-hal yang bertentangan dengan iman, hal-hal yang menghancurkan Islam dan hal-hal yang membatalkan ibadah, yaitu berupa kemusyrikan-kemusyrikan yang muncul disebabkan sikap berlebihan, kebodohan, taklid buta dan ta’assub yang batil. Sebagian besar yang melakukan kemunkaran-kemunkaran ini adalah orang-orang asing (bukan orang Saudi sendiri ?) yang berasal dari berbagai penjuru dunia, yang mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat agama. Mereka telah menjadikan kuburan Rasulallah saw. sebagai berhala, disebabkan cinta yang berlebihan, sementara mereka tidak merasa.”(Al–Musyahadat al-Ma’shumiyyah ‘Inda Qabr Khair al-Bariyyah, hal.15) .

Sudah jelas bagi orang yang berpendidikan agama akan menolak tegas pikiran dangkal si Syekh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan Muhammad Sulthan al-Ma’shumi ini, dengan adanya omongannya itu menunjukkan mereka tidak bisa membedakan antara ‘ibadah dan ta’dzim/penghormatan. Baik menurut syariat maupun akal, kita tidak dapat meletakkan secara keseluruhan kata khudhu’ (ketundukkan) dan tadzallul (perendahan diri) sebagai ibadah. Kita melihat banyak sekali perbuatan yang dilakukan oleh manusia didalam kehidupan sehari-harinya yang disertai dengan ketundukkan dan perendahan diri.
Contohnya; ketundukkan seorang murid kepada gurunya dan begitu juga ketundukkan seorang prajurit dihadapan komandannya. Tidak mungkin ada seorang manusia yang berani mengatakan perbuatan yang mereka lakukan itu ibadah. Allah swt. telah memerintahkan kita untuk menampakkan diri kepada kedua orang tua ketundukkan dan perendahan. Sebagaimana firman-Nya: “Dan turunkanlah sayapmu (rendahkanlah dirimu) dihadapan mereka berdua dengan penuh kasih sayang”.Kata “penurunan sayap” disini adalah merupakan kiasan dari ketundukan yang tinggi. Kita tidak mungkin menyebut perbuatan ini sebagai ibadah. Bahkan, pedoman seorang muslim adalah “tunduk dan merendahkan diri di hadapan seorang Mukmin, serta congkak dan meninggikan diri dihadapan orang kafir”. Sebagaimana Allah swt. berfirman, “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir”. Jika semua perendahan diri dikatakan sebagai ibadah, berarti Allah telah memerintahkan orang-orang mukmin untuk beribadah kepada satu sama lainnya. Jelas, ini sesuatu yang mustahil!

Banyak ayat ilahi dengan jelas berbicara tentang hal ini, dan menafikan sama sekali klaim yang dikatakan oleh golongan Wahabi/Salafi. Diantaranya ialah, ayat yang menceritakan sujudnya para malaikat kepada Adam. Sujud adalah merupakan peringkat tertinggi dari khudhu’ (ketundukkan) dan tadzallul (perendahan diri). Allah swt. berfirman: “Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam’”.(QS. al-Baqarah: 34). Jika sujud kepada selain Allah swt. dan penampakkan puncak ketundukkan dan perendahan diri itu disebut ‘ibadah’ –sebagaimana yang dikatakan oleh kalangan Salafi/Wahabi– maka tentu para malaikat ,na’udzu billah, telah musyrik dan kafir. Dari ayat ini kita dapat mengetahui bahwa puncak dari ketundukkan bukanlah ibadah. Disamping itu, tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa kata ‘sujud’ didalam ayat ini berarti makna hakiki/yang sesungguhnya. Banyak ahli tafsir menulis bahwa sujud diayat tersebut berarti sujud penghormatan atau ta’dzim terhadap Adam a.s jadi bukan sujud ibadah atau sujud kepada Adam untuk dijadikan sebagai kiblatnya, sebagaimana menjadikan Ka’bah sebagai kiblat mereka.

Jadi pikiran dan kata-kata Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan Muhammad Sulthan al-Ma’shumi, seperti tersebut diatas ini adalah pikiran yang tidak benar dan tanpa dasar. Karena, seandainya arti sujud kepada Adam adalah berarti menjadikan Adam sebagai kiblat atau sebagai penyembahan, maka tidak ada alasan bagi Iblis untuk mengajukan protes. Iblis protes karena sujud ditujukan kepada Adam ini bukan dalam arti hakiki/sesungguhnya hanya sebagai penghormatan tinggi saja. Begitu juga Al-Qur’an al-Karim telah mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan kemungkinan diatas. Yaitu melalui perkataan Iblis yang berbunyi, “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”. (QS. al-Isra: 61). Yang Iblis pahami dari perintah Allah swt. ialah sujud kepada diri Adam itu sendiri (sebagai penghormatan). Oleh karena itu, dia protes dengan mengatakan, Saya lebih baik darinya. Dengan kata lain dia mengatakan, Saya lebih utama darinya. Bagaimana mungkin seorang yang merasa lebih utama harus sujud kepada orang yang tidak lebih utama ?

Disamping itu jika yang dimaksud dengan sujud disini ialah menjadi- kan Adam sebagai kiblat, maka tidaklah harus berarti bahwa kiblat itu lebih utama dari orang yang sujud. Dengan demikian berarti Adam tidak mempunyai keutamaan atas mereka. Ini jelas bertentangan dengan zhahir/lahir ayat itu. Sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Al-Isra’ (17); 61-62: ‘Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?’ Juga katanya (Iblis), ‘Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh padaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil‘. Jadi jelas keengganan Iblis untuk sujud kepada Adam tidak lain adalah dikarenakan pada sujud tersebut terdapat kedudukan dan keutamaan yang besar bagi Adam as. dengan lain kata untuk ta’dzim (penghormatan tinggi) pada Adam as.. Mari kita ikuti dialog mengenai sujudnya Malaikat untuk Nabi Adam as. berkut ini:

”Pada suatu hari seorang Wahabi, yaitu pemimpin jama’ah Ansharus-Sunnah dikota Barbar kawasan utara Sudan, pernah memprotes seorang madzhab sunnah berkenaan dengan pembahasan ini. Dia (pemimpin jama’ah) mengatakan;
‘Sesungguhnya sujudnya malaikat kepada Adam adalah dikarenakan perintah Allah swt.’. Seorang bertanya padanya; ‘Jika demikian, berarti anda tetap bersikeras bahwa perbuatan ini, yaitu sujud, termasuk kategori syirik namun Allah swt. memerintahkannya’. Syekh Wahabi ini menjawab: ‘Ya’. Seorang tersebut bertanya lagi kepadanya, ‘Apakah perintah Ilahi ini telah mengeluarkan sujudnya malaikat kepada Adam dari katagori syirik?’. Si Syekh Wahabi menjawab, ‘Ya’.
Kemudian orang tersebut berkata, “Ini perkataan yang tidak berdasar, yang tidak akan diterima oleh orang yang bodoh sekalipun, apalagi oleh orang yang berilmu. Karena, perintah Ilahi tidak dapat mengubah esensi sesuatu. Sebagai contoh, esensi dari celaan dan caci maki ialah penghinaan. Jika Allah swt. memerintahkan kita untuk mencaci Fir’aun, apakah perintah Ilahi ini dapat mengubah esensi celaan, sehingga celaan akan berubah menjadi pujian dan penghormatan bagi Fir’aun? Demikian juga sujud yang dikarenakan perintah Allah akan berubah (dari kemusyrikan) menjadi tauhid yang murni. Tidak !, yang demikian ini mustahil. Dengan perkataan ini berarti anda telah menuduh para malaikat telah berbuat syirik”. Dengan jawaban seorang tersebut si Syekh golongan Wahabi ini tampak keheranan diwajahnya dan diam tidak bicara.

Orang tersebut meneruskan sambil berkata; “Dihadapan anda ada dua kemungkinan, yang pertama apakah sujud ini keluar dari katagori ibadah?, dan ini adalah apa yang kami katakan dan yakini. Yang kedua, apakah sujud ini merupakan salah satu bentuk ibadah, sehingga dengan demikian berarti malaikat yang sujud telah berbuat syirik, namun perbuatan syirik yang telah diizinkan dan di perintahkan oleh Allah swt.? Perkataan yang kedua ini adalah perkataan yang tidak mungkin dikatakan oleh seorang Muslim yang berakal sehat, dan jelas-jelas tertolak berdasarkan firman Allah swt. yang berbunyi, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?’” (QS. al-A’raf (7): 28). Sekiranya sujud itu ibadah dan perbuatan syirik, tentu Allah swt. tidak akan menyuruhnya !

Al-Qur’an al-Karim juga telah memberitahukan kita akan sujudnya saudara-saudara Yusuf dan juga ayahnya kepada dirinya. Sujud yang mereka lakukan ini bukan dikarenakan perintah Allah, namun demikian Allah swt. tidak menyebutnya sebagai perbuatan syirik, dan tidak menuduh saudara-saudara Yusuf dan juga ayahnya telah melakukan perbuatan syirik. Allah swt. berfirman; ”Dan dia menaikkan kedua ibu bapaknya keatas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan Yusuf berkata, ‘Wahai ayahku, inilah tabir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan’”. (QS. Yusuf [12] : 100). Mimpi yang dikatakan Yusuf itu terdapat didalam surat Yusuf [12]; 4; “Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya,’ Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; aku lihat semuanya sujud kepadaku”.

Allah swt. telah menyebut peristiwa sujudnya mereka kepada Yusuf pada dua tempat yaitu sujudnya saudara-saudara Yusuf dan sujudnya sebelas bintang, matahari dan bulan dalam mimpinya kepadanya. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan arti sujud diayat ini yaitu perbuatan yang menampakkan ketundukkan, perendahan diri dan pengagungan, jadi bukanlah ibadah. Atas dasar ini, kita tidak bisa menuduh atau menjuluki seorang Muslim muwahhid (bertauhid) yang tunduk dan merendahkan diri dihadapan makam Rasulallah, makam para imam dan makam para wali, sebagai orang musyrik yang menyembah kuburan. Karena, ketundukkan bukanlah berarti ibadah atau penyembahan.

Jika perbuatan yang semacam ini dikatagorikan sebagai perbuatan ibadah kepada kuburan, maka kita juga harus konsekwen mengatakan bahwa amal perbuatan kaum muslimin pada manasik haji –thawaf mengelilingi Ka’bah, melakukan sa’i antara shafa-marwa, mencium batu hajar aswad dan lain sebagainya– termasuk ibadah dan perbuatan syirk. (Na’udzu billahi). Karena dilihat dari bentuk dhahir/lahir perbuatan-perbuatan ini tidak berbeda dengan perbuatan mengelilingi kuburan Rasulallah saw., menciumi atau menyentuhnya.

Allah swt. berfirman mengenai tawaf dan Sa’i; “Dan hendaklah mereka melakukan tawaf mengelilingi rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. al-Hajj : 29). Allah swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i diantara keduanya”. (QS. al-Baqarah: 158).
Apakah anda memandang bahwa berthawaf mengelilingi batu dan tanah (Ka’bah) merupakan ibadah kepadanya? Seandainya secara umum ketundukkan atau perendahan diri dikatakan sebagai ibadah, tentu perbuatan-perbuatan inipun dikatagorikan sebagai ibadah, dan tidak bisa dirubah esensinya melalui perintah Allah. Karena sebagaimana telah kita jelaskan bahwa perintah Allah tidak dapat mengubah esensi suatu perbuatan“! Demikianlah dialog yang cukup menarik antara Syeikh Wahabi dan golongan madzhab Sunnah.

Namun yang menjadi masalah bagi golongan Salafi (baca: Wahabi) ialah mereka kurang memahami definisi ibadah, dan tidak memahami jiwa dan hakikatnya, sehingga mereka hanya berurusan dengan bentuk lahiriyahnya saja. Ketika mereka melihat seorang peziarah kuburan Rasulallah saw. menciumi makam Rasulallah saw. atau makam para waliyullah, maka dengan serta merta terbayang didalam benak mereka seorang musyrik yang menciumi berhalanya, lalu dengan segera mereka menyamakan perbuatan seorang Muslim muwahhid yang menciumi kuburan tersebut dengan perbuatan seorang musyrik yang menciumi berhalanya. Jelas pikiran seperti ini adalah salah! Seandainya semata-mata bentuk luar/lahiriyah cukup untuk dijadikan dasar penetapan hukum, maka tentunya merekapun harus mengkafirkan seluruh orang Muslim yang mencium hajar aswad. Akan tetapi, kenyataannya tidaklah demikian! Seorang Muslim yang mencium hajar aswad, perbuatannya itu dihitung sebagai tauhid yang murni –karena mereka tidak meyakini hajar aswad sebagai sesembahannya– sementara seorang kafir yang mencium berhala, perbuatannya itu dihitung sebagai perbuatan syirik yang nyata, karena mereka meyakini berhala ini sebagai sesembahannya yang memiliki sifat ketuhanan

ZIKIR PARA ARIF BILLAH MENGGETARKAN ARSY

Hai manusia! Ketika dikatakan kepadamu untuk berzikir kepada Allah, maka bersegeralah engkau untuk berzikir kepada Nya. Karena Zikirmu kepada Nya akan membawamu lebih dekat lagi kepada Nya, dan zikirmu itu akan menggetarkan Arsy Tuhan mu sehingga para Malaikat Arsy bertanya-tanya ; ada apa ini ? begitu diketahui bahwa ada seseorang yang berzikir kepada Allah maka bersegeralah para Malaikat Bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertkbir seraya meohonkan Do’a ke Hadirat Allah untuk kebaikan dan ke’afiatan orang yang tenggelam di lautan zikir.
Hai Manusia! Ketahuilah olehmu bahwa tidak ada amalan yang paling disukai Allah dan yang lebih utama selain Zikrullah. Sebagaimana yang di Firmankan Allah :
“Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS, Al ‘Ankabuut : 45)
Tanamkan dihatimu bahwa apabila engkau berzikir kepada Allah (Ingat kepada Allah), maka sesungguhnya Allah hadir sertamu dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. Karena itu apabila engkau berzikir kepada Allah maka sucikanlah jiwamu terlebih dahulu. Bukankah Allah Maha Suci? Dan pantaskah engkau menghadap kepada Nya dengan Jiwa yang belum tersucikan?

Sungguh! Kesucian jiwa itulah yang akan menjadi saksi bagi mu tatkala engkau berzikir. Tanpa jiwa yang tersucikan maka zikirmu kepada Allah bukan mengantarkanmu dekat kepada Nya akan tetapi akan membuatmu semakin jauh dengan Allah.
Zikir (ingat)mu kepada Allah tatkala di dasari oleh jiwa yang kotor menyebabkan engkau berzikir bukan karena Allah tapi karena sesuatu selain Allah, lisan berzikir kepada Allah tetapi yang ada di hatimu bukan Allah melainkan sesuatu selain Allah. Bukankah pahala, surga, kedudukan, kemuliaan (karomah) dll itu adalah sesuatu selain Allah? Bukankah itu semua sesuatu yang datang dari pada Allah dan Bukan Allah! Lalu pantaskah engkau berzikir kepada Allah tetapi hadap hatimu kepada sesuatu selain Allah?
Jika engkau berzikir kepada Allah tetapi hatimu mengharapkan sesuatu selain Allah maka engkau berzikir bukan karena Allah tetapi karena menurutkan Hawa Nafsu (keinginan) di dirimu. Dan itulah suatu tanda bahwa jiwamu masih kotor dan belum tersucikan.
Sadarlah wahai Manusia! Hidup matimu hanya untuk Allah, sholat dan ibadahmu hanya bagi Allah seru sekalian Alam, bukan kepada yang lain selain Allah.
Firman Allah : “Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS, Al An’aam : 162)
Hai manusia! Kesucian jiwa itu tidak akan engkau dapatkan sebelum engkau mengenal kepada Allah. Jika engkau kenal kepada Allah maka Allahlah yang akan mensucikan jiwamu. Kenalilah Allah hai manusia sebelum engkau menemui kematian, sebelum Sakaratul Maut menjemputmu. Jika engkau belum mengenal akan Allah sedangkan kematian itu telah datang kepadamu maka kerugianlah yang akan engkau dapatkan.
Firman Allah :
“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”.(QS, Al Israa’ : 72)
Buta berarti tidak melihat, tidak melihat berarti tidak akan kenal, jika tidak kenal bagaimana mungkin engkau bisa mengatakan cinta kepada yang engkau sendiri tidak mengenalnya dan tidak melihatnya. Jika sudah demikian tidaklah rasa cintamu kepada yang engkau sendiri tidak mengenalnya maka itulah yang dinamakan “CINTA BUTA”.
Rosulullah Saw bersabda : “Seseorang itu beserta dengan siapa yang ia cintai”.
Jika cintanya kepada Allah dan Rosul Nya karena mengenal kepada Allah dan Rosul Nya maka ia akan beserta yang ia cintai.
Tetapi jika ia mencintai sedangkan ia sendiri tidak kenal kepada yang dicintai, lalu kemanakah ia kembali? Dan beserta siapakah ia?

PILAR-PILAR TAUHID MENUJU KEBENARAN SEJATI

Di dalam Kehidupan ini segala sesuatunya serba berpasang-pasangan. Jika ada siang pasti ada malam, ada gelap dan ada terang, ada Laki-laki dan ada perempuan, ada benar dan ada salah, ada baik dan ada buruk, ada halal dan ada haram, ada untung dan ada rugi, ada langit dan ada bumi, ada surga dan ada neraka, ada hidup dan ada mati, ada Nyata dan ada Ghoib, ada Zahir dan ada Bathin, ada yang “ADA” dan ada pula yang “TIADA”, dll……dll……….dl. Juga termasuk dalam sifat pun berpasang-pasangan seperti ada suka dan duka, ada tangis dan tawa, ada marah dan sabar, dll……..dll……..dll.
Sempurnanya Hidup jika yang berpasang-pasangan itu ada pada diri manusia, dan kesempurnaan itu di dapatkan apabila sang diri bisa membawa diri pada jalur Tengah diantara keduanya…. Artinya tetap tegak pada yang mengadakan ke dua hal yang berpasang-pasangan itu yaitu Tuhan Seru Sekalian Alam (Allah Swt).
Dan itulah pentingnya…… Ketauhidan, agar manusia berjalan di muka Bumi ini dalam mengarungi Hidup senantiasa terpelihara dari sifat berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan sesuatu tanpa sadar bahwa hanya Sang Hyang Kuasa lah (Allah Swt) sebenar2nya yang memiliki ke Agungan itu.
Banyak yang terjebak dari segala sesuatu sifat yang berpasang-pasangan itu, dengan berambisi untuk mendapatkan tujuan itu hanya semata-mata untuk memuaskan Diri nya sendiri, begitu pula ada yang berusaha sekuat tenaga dengan mempertahankan dirinya agar terhindar dari segala sesuatu yang membuat dirinya merugi. Saya katakan….. bahwa itu semua tidak lah salah!!!!, dan baik sekali. Akan tetapi jika itu semua di sandarkan pada Daya Upaya nya sendiri dengan merasa bisa berbuat sesuatu maka itulah mereka-mereka yang terjebak oleh ke DIRI an/ke EGO an yang ada pada dirinya (Hawa Nafsu).
Terus bagaimana dengan yang mengatakan bahwa : di Al-Qur’an…bukannya sudah di Firmankan bahwa : Apabila yang baik-baik dan benar itu datang dari pada Allah dan yang tidak baik atau yang buruk-buruk datang dari diri sendiri..????, bahkan yang menyampaikan itu buka hanya satu dua orang tetapi setiap Ustadz-ustadz, Kyai, Syech dan Majelis-majelis Ulama pun mengatakan demikian…. Lalu apakah masih bisa di bantah…???!!!!
Sungguh… Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya, akan tetapi yang perlu di renungkan adalah bahwa yang datang dari pada Allah itu sudah pasti Benar adanya dan tidak ada keragu-raguan di dalamnya dan hal itu berlaku bagi mereka-mereka yang telah tumbuh kesadaran di dirinya bahwa Allah senantiasa menyertainya di setiap langkahnya dari buka mata sampai tutup mata kembali 24 jam sehari semalam. Jika Allah senantiasa menyertainya dimana pun ia berada tentunya Allah akan memelihara dirinya dari pada keburukan-keburukan dan perbuatan-perbuatan yang tidak baik dengan cinta kasih Allah atas dirinya. Dan kalau toh mereka itu lalai, bukan disebabkan ke DIRI an/ke EGO an (Hawa Nafsu) melainkan karena Fitrah dirinya memang dalam keadaan lupa. Tentunya Allah akan mengingatkan dirinya bahwa ia telah salah dan seketika itu akan membuat ia sadar bahwa kesalahan itupun datang dari pada Allah untuk mendidik ia tentang kebenaran dibalik kesalahan itu yang membuat dirinya semakin mengetahui akan Cinta Kasih Allah Amat sungguh-sungguh tiada taranya. Tentunya mereka itu adalah orang-orang yang telah tertanam pada dirinya ke Tauhidan yang sebenar-benarnya. Sehingga kesalahan yang terjadi atas dirinya karena kelalaiannya tadi bukan lah suatu hal yang buruk baginya melainkan suatu hal yang baik bagi dirinya, karena di dalamnya terdapat pelajaran-pelajaran dari Allah untuk di renungkan olehnya.
Adapun mereka yang tidak mengetahui akan ke Tauhidan itu, setiap waktunya dan setiap saatnya dalam ke adaan lalai karena ia merasa berbuat dengan daya upaya nya sendiri. Jangankan perbuatan-perbuatan atau kelakuan-kelakuan yang sudah nyata salah dan buruk, perbuatan baikpun, perbuatan yang benar pun seperti halnya menolong orang, baik dengan tamu, sopan santun, mencintai orang lain, bahkan termasuk amal ibadah sekalipun di dalam Sholatnya, Puasanya, Zakatnya, Hajinya, Wirid, Tasbih dll……..dll………dll……….., itu semua adalah BATIL, karena ia berbuat kebaikan itu di dasari oleh ke DIRI an/ke EGO an nya (Hawa Nafsu) dan itu semua terjadi karena ia lalai dari pada Kebenaran di balik ke DIRI an/ke EGO annya (Hawa NAfsu).
Jika demikian…… Sangat-sangat penting sekali Tahuid itu ya….????
BENAR..!!!!, Bahkan sangat berarti dan bermakna sekali dalam penerapan Hidup baik di Dunia maupun di Akhirat, agar tidak tertipu daya oleh ke DIRI an/ke EGO an (Hawa Nafsu) yang ada pada dirinya. Jadi intinya adalah…. Bahwa ke DIRIan/ ke EGO an (Hawa Nafsu) itu bukan hanya membawa dirinya kepada hal-hal yang tidak baik saja melainkan juga membawa dirinya kepada hal-hal yang baik dan benarpun dalam hidup baik dari segi sosial maupun dalam Amal Ibadah. Segala sesuatu pekerjaan atau perbuatan bila di dasari oleh ke DIRI an/ke EGO an (Hawa Nafsu), itu semua adalah BATIL. Dan itulah makna dari pada : “Kebaikan itu datang dari sisi Allah, dan keburukan itu datang dari diri sendiri”. Yang di maksud dengan diri sendiri adalah perbuatan yang dilakukan karena ke DIRI an/ke EGO an (Hawa Nafsu)nya. Dan itu di sebabkan karena ia senantiasa dalam ke adaan lalai dari pada Ketauhidannya kepada Allah. Sedangkan segala sesuatu selain Allah adalah BATIL dan tidak KEKAL.
‘
Allah Swt ber firman :
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal”. (QS, An Nahl : 96)
‘
Katakanlah : “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah : “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah : “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah : “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS, Ar Ra’d : 16)
‘
Wahai Insan…!!!!,
Beratuhidlah engkau….. dalam Kehidupanmu, dalam Gerak dan Diammu, Dalam Tidur dan Jagamu, dalam Sehat dan Sakitmu dan di setiap hari dari buka mata sampai tutup matamu begitupun juga dalam Amal Ibadahmu agar engkau tiada tertipu oleh sesuatu apapun yang ada pada ke DIRI an/ke EGO an (Hawa Nafsu)mu. Cukuplah….. Allah sebagai penglihatanmu, pendengaranmu, penciumanmu, perkataanmu dan nyawamu, masuk didalam ketauhidan Allah yang meliputi tiap-tiap segala sesuatu.
Dan untuk masuk dalam Ketauhidan yang demikian, maka bermula dengan mengenal terlebih dahulu kepada Allah Swt lalu kemudian dapatlah mentauhidkan-Nya. Mengenal dengan sebenar-benarnya pengenalan yaitu tidak hanya sebatas Teori belaka tetapi lebih pada merasakan kehadiran Allah Swt dekat sekali pada dirimu dan meliputi yang di luar dirimu. Yaitu dengan Rasa Pengrasa lah engkau benar-benar merasakan kehadiran-Nya bukan dengan merasa-rasakan, sebab merasa-rasakan itu adalah hanya bermain di logika Akal semata yang masih suka menimbang-nimbang iya atau tidak, benar atau salah…..
Adapun Rasa Pengrasa itu terdapat pada KESADARAN DIRI, karena mengerti bahwa memang Allah senantiasa Hadir dari dulu sampai sekarang dan sampai akan datang di setiap waktu. Hadir bukan karena di Hadir-hadirkan tetapi memang sudah QIDAM/SEDIA dalam ke Hadirannya, itulah Ma’rifat yang sesungguhnya dan sebenar-benarnya yaitu MA”RIFATULLAH namanya.
Dan setelah masuk dalam MARIFATULLAH yang demikian lalu dalam Haqqul Yaqin (Kebenaran ke Yakinan) tertanam Ketauhidan yang Sejati di balik segala sesuatu yang berpasang-pasangan, seperti yang sudah di uraikan di atas mengenai Kehidupan ini segala sesuatunya serba berpasang-pasangan. Jika ada siang pasti ada malam, ada gelap dan ada terang dst….dst….dst…
Di dalam Ketauhidan yang Sejati disitulah KEBENARAN SEJATI yang terlepas dari sifat yang berpasang-pasangan namun meliputi yang berpasang-pasangan. Bukan “A” dan Bukan “B”, tetapi meliputi “A” dan “B”. Bukan “INI” dan “ITU”, tetapi meliputi “INI” dan “ITU”. Itulah Al-Haq Bil-Haq dalam Maqom Laa Maqom (tempat yang tiada bertempat).
Dan untuk berjumpa dengan KEBENARAN SEJATI itu maka haruslah dikenali dan dimengerti serta lebur dalam Rasa Pengrasa pada “PILAR-PILAR TAUHID”, yaitu :
- Tauhidul Af’al (Esa dalam Af’al/perbuatan Allah)
- Tauhidul Asma’ (Esa dalam Nama Allah)
- Tauhidus Shifat (Esa dalam Sifat Allah)
- Tauhiduz Zat (Esa dalam Zat Allah)
Lalu…… bisakah semua Insan sampai pada Ketauhidan yang demikian…?????
Bisakah dan mampukah diri yang penuh dengan dosa ini masuk dalam Tauhid yang demikian…?????
Bisakah dan sanggupkah diri yang bodoh ini memahami Tauhid yang demikian…?????
Jawabnya….. Allah tidak pernah menutup diri-Nya kepada siapapun juga, dan tidak pernah merahasiakan diri-Nya kepada siapapun juga. Karena Allah itu Amat Maha Nyata senyata-nyatanya dan Maha menyatakan tiap-tiap segala sesuatu. Jadi tidak ada yang mustahil bagi siapapun untuk sampai kepada-Nya, tinggal manusia nya saja untuk pertama kalinya dan awal-awal sekali sebelum menuju kepada-Nya dalam MA”RIFATULLAH dan TAUHIDULLAH agar berserah diri dengan sebenar-benarnya penyerahan dan menenggelamkan dirinya dalam penyerahan diri itu yaitu menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa dirinya “Laa… Hawla Wa Laa….Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil Adziiim”. Dan untuk masuk dalam kesadaran yang demikian maka jalannya dengan mengenal akan Hakikat Ruh. bisa di baca di : KESADARAN AKAN RUH AWAL MENGENAL ALLAH
Semoga Allah senantiasa membimbing Nur-Nya kedalam Hati kita semuanya dan menuntun kita untuk dapat berserah diri sepenuhnya dalam Penyerahan Diri “Laa… Hawla Wa Laa….Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil Adziiim”, yang pada akhirnya akan sampai kepada perjumpa’an dengan Allah Swt.
‘
Allah memberkati kita semuanya dan senantiasa beserta kita di mana pun kita berada.
Salam Taklim,
Pengembara Jiwa.

JALAN MENUJU MA’RIFATULLAH

Di dalam suatu dalil dikatakan bahwa :
“Awwaluddin Ma’rifatullah” (Awal mula seseorang itu beragama, ialah mengenal akan Allah)”.
Dimana seseorang itu wajib hukumnya untuk mengenal akan Allah sebagai langkah awal menuju kesempurnaan beragama. Tanpa mengenal Allah maka Ibadah apapun yang dilakukan bagaimana mungkin bisa dikatakan sampai sedangkan Tujuan nya saja tidak diketahui. Karena itu sangatlah penting sekali pengenalan akan Allah itu di dalam kehidupan ini. Dengan Mengenal akan Allah maka akan dirasakannya Manis Lezatnya ke imanan, dirasakan khusyuknya dalam Amal Ibadah serta Ketenangan Jiwa akan mengalir di dalam dirinya. Menjadikan Pribadi yang ikhlas, sabar, tawakkal serta Ridho dalam menjalani Hidup. Tentu tiada kebahagiaan yang melebihi daripada kebahagiaan para Arif billah/orang yang mengenal akan Allah
Seandainya Allah Swt membukakan akan rahasia keagungan para Arif billah, maka niscaya orang-orang akan tercengang dan terheran-heran serta takjub dibuatnya. Karena Nur yang meliputi diri para Arif billah itu akan memancar menembus sampai ke langit ketujuh. Karena itu lah Allah menutup akan diri para kekasih-kekasihNya itu, sehingga tidak ada yang mengetahui tentang dirinya melainkan hanya Allah dan mereka-mereka yang sama-sama telah sampai pada maqom Ma’rifatullah tsb.
Adapun Manusia-manusia itu untuk sampai kepada pengenalan akan Allah (Ma’rifatullah) maka terlebih dahulu ia haruslah mengenal dirinya yang sebenar-benarnya.
“Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Robbahu” (Barang siapa yang mengenal akan dirinya yang sebenarnya niscaya kenal lah ia akan Allah).
Dan tahapan-tahapan yang harus dilalui adalah :

  1. Menundukkan Hawa Nafsu dengan memerangi kesyirikan, kekufuran, kemunafikan, kefasikan dan kemurtadan yang ada di dalam diri dengan menjauhi kesombongan, keingkaran terhadap kebenaran, kebodohan dan ketidak pedulian tentang kebenaran.
  2. Apabila ia telah berhasil di dalam memerangi Hawa Nafsunya tadi maka ia akan di anugrahi Hidayah/petunjuk kepada jalan yang di Ridhoi Allah Swt yaitu jalan menuju kepada Kebenaran Hakikat Muhammad Rosulullah Saw, serta dilengkapi ia dengan sifat-sifat Muhammad Rosulullah Saw yaitu Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah serta menjadikan ia Sami’na wa atho’na.
  3. Apabila ia tetap Istiqomah pada tahapan ke-1 dan ke-2 itu maka ia akan disesuaikan oleh Allah Swt dengan Hukum Sunatullah yang berlaku di dalam kehidupan ini. Maka tetapkanlah kesabaranmu di dalam Hukum Allah Swt itu. (Tawakkal/berserah diri kepada Allah dengan meyakini bahwa apa yang terjadi atas dirinya, itu semua Qudrat Iradat Allah Swt semata). Bersabarlah! Dan pasrahkanlah dengan sebenar-benarnya, dan berlaku kasih sayanglah kepada sesama Saudara Mu’min serta menjadilah Rahmat bagi Makhluk Allah Swt yang lain. Tetapi ingatlah!!!, sesungguhnya banyak di antara orang Mu’min Hamba-hamba Allah itu yang terlena di dalam tahapan ini, artinya mereka yang takjub dan hilang kesadaran dirinya karena sangat mempesonanya keindahan-keindahan dan kemuliaan-kemuliaan Allah Swt yang dinyatakan/ditampakkan oleh Allah berupa karomah-karomah membuat ia lupa akan Allah Swt yang menganugrahkan kelebihan-kelebihan itu sehinggan Karomah itulah yang menjadi maksud dan tujuannya. Lalu lupa ia kepada tujuan yang sebenarnya yaitu Allah Swt yang menurunkan Karomah itu. Maka jatuhlah ia kepada jurang kefasikan, kembali dikuasai oleh Hawa Nafsunya. “Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah………….”. Berhati-hatilah di dalam tahapan ini!!!!, tidak ada seorangpun yang selamat dalam tahapan ini melainkan mereka yang benar di dalam memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah Swt, sehingga jadilah Allah sebagai penolongnya dan hanya Allah lah sebaik-baik penolong bagi orang-orang Mu’min.
  4. Kemudian apabila ia telah sampai kepada tahapan itu dengan selamat dan ia senantiasa di dalam kesabaran serta selalu berhati-hati di dalam Musyahadahnya (Penyaksiannya), maka akan tersingkaplah segala Kebenaran Hakikat Muhammad Rosulullah Saw dengan sendirinya tanpa ia memaksakan kehendaknya untuk menyingkap tirai itu. Artinya ; Kebenaran Hakikat Muhammad Rosulullah Saw itu sendiri yang akan datang menjemputnya untuk di bawa naik (Mi’raj) menuju Alam yang tiada Batas dan dihampirkannnya kepada Kebenaran yang membawa Rahmat yaitu Nurun Ala Nurin sumber segala hakikat-hakikat yang ada termasuk Hakikat Diri atau Hakikat Muhammad. Lalu timbul lah kecintaan yang amat sangat dalam kepada Muhammad Rosulullah Saw, rindu yang tiada habis-habisnya dan diwujudkannya di dalam gerak dan diamnya dengan Sholawat dan puji-pujian kepada Rosulullah Saw. Kecintaannya yang sangat dalam kepada Rosulullah Saw terasa nikmat sekali dirasakannya, sehingga tiada nikmat apapun yang dapat menyamai kenikmatan cinta Rosulullah Saw. Racun kerinduan rela dan ikhlas diminumnya karena kemabukkannya tiada bandingannya. Kemabukkan cinta itulah yang mengahantarkan dirinya kepada Robbul Izzati untuk berkasih-kasihan memadu cinta yang telah lama terpendam.
Dengan tahapan-tahapan itu akan sampai lah ia kepada Memandang Zat Maha Mutlak yang tiada tara keagungan dan kebesaran-Nya, yang Esa dalam ke Esa annya, dimana segala sesuatu bergantung kepada-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tiada satupun yang menyamai-Nya.
Ketika para Pecinta Allah sudah asyik di dalam pandang memandang, maka Allah akan mendudukan ia pada “Maqom Muroqobah” sebagai jalan terbukanya Tirai “Kebenaran Hakiki/Mukassyafaturrobbani”. Itulah Akhir dari pada pengembaraan dan perjalanan dan Itulah Puncak segala Puncak kenikmatan dan kebahagiaan.
Maka sampailah ia kepada Hakikat di atas Hakikat yaitu Zat Maha Mutlak yang tidak bisa di ganggu gugat dari segala apa pun tentang diri-Nya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu Anlaa ilaa ha illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadurrosulullah.

Sunday, 15 January 2012

Ahlussunnah wal Jamaah di Bumi Nusantara

Secara geografis Nusantara –di mana Indonesia sebagai bagian darinya--merupakan wilayah strategis baik secara ekonomi dan politik serta pertahanan, karena posisinya pada perlintasan budaya antar benua. Dengan posisinya yang strategis itulah Nusantara menjadi perlintasan agama yang sangat penting. Kawasan ini mengalami perubahan budaya dan agama yang beruntun namun berjalan cukup damai.

Kepercayaan Pagan, Hindu, Budha dan Islam secara dialektik telah menjadi tata nilai yang berjalan di kawasan Asia Tenggara. Nilai-nilai tersebut, bahkan, kemudian mampu memberikan kontribusi dalam membentuk sistem pemerintahan dan varian keagamaan sendiri yang mencerminkan pergumulan antara budaya luar dengan budaya asli Nusantara.

Lebih-lebih ketika Islam datang ke Nusantara. Agama baru ini diterima sangat baik oleh penduduk setempat. Hal itu karena kearifan para ulama atau wali yang datang ke wilayah ini, yang sangat menghormati tradisi, adat istiadat, bahkan agama setempat. Islam dicoba diselaraskan dengan ajaran setempat, karena itu tidak sedikit tradisi yang kemudian dijadikan sarana penyiaran Islam.

Dengan cara itu mereka tidak terusik dengan datangnya agama baru (Islam) itu, mereka menerima dengan tangan terbuka. Apalagi agama Islam yang tidak mengenal strata sosial itu, dirasa sangat membebaskan mereka dari kungkungan kekastaan yang ketat, karena itu mereka turut membantu penyebarannya.

Sistem keberagamaan yang toleran dengan tradisi lokal ini berkembang luas di kalangan Islam Nusantara yang dikenal dengan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, yang dikembangkan oleh para wali atau ulama baik di Aceh, di Minangkabau, di Palembang di Pontianak, Banjarmasin, Bugis, Makassar, Ternate, Nusa Tenggara dan sebagainya, pada umumnya bermazhab Syafiiyah, atau mazhab empat pada umumnya. Mereka juga terhimpun dalam kelompok terekat, seperti Sattariyah, Qadiriah, Naqshabandiyah dan lain sebagainya.

Dengan kekuatan tradisi itu mereka bisa mendirikan pusat-pusat kebudayaan, baik berupa kerajaan maupun lembaga pendidikan pesantren dan pusat perdagangan. Dengan sarana itu Islam berkembang pesat di seluruh penjuru Nusantara lebih intensif dan lebih langgeng ketimbang pengaruh agama lainnya yang pernah ada.

Keutuhan dan keberagamaan masyarakat Nusantara ini mulai terusik ketika muncul gerakan Wahabi yang puritan. Semua tata nilai yang telah dikembangkan untuk mendukung sarana dakwah dan ibadah itu dicap sebagai tahayul, bid’ah, dan khurafat.

Selama beberapa dasawarsa mereka menyerang dengan sengit kelompok ahlussunnah yang bermazhab dan kaum tarekat, karena dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam. Mereka ini tidak menghendaki adanya percampuran antara Islam dengan budaya Nusantara, mereka ingin mengembalikan Islam pada budaya Arab, yang hanya mengenal Al-Qur’an dan Hadits. Karena cara penyiaran ajaran baru itu demikian kasar, penuh kontroversi akhirnya, tidak diterima secara penuh oleh masyarakat.

Gelombang serangan terhadap eksistensi Islam Nusantara itu terus berdatangan dalam setiap dasawarsa, dengan datangnya gerakan Islam puritan yang radikal. Bahkan serangan juga datang dari kebudayaan Barat, yang menuduh Islam ini sebagai Islam sinkretis, yang konservatif yang tidak sesuai denagn kemajuan zaman. Bahkan saat ini sistem kapitalisme global yang manawarkan budaya sekular dan hedonis juga memberika ancaman tersendiri bagi keutuhan kamunitas Islam Nusantara yang dengan gigih mempertahankan moral dan tradisi.

Sebenarnya kekuatan Islam Nusantara ini sangat besar, karena didukung oleh mayoritas umat Islam, yang sehari-hari dengan gigih mengamalkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Hanya saja kurang terpadu dan kurang sigap dalam memainkan media, sehinga perannya seolah menjadi terpinggir oleh kelompok-kelompok Islam garis keras yang puritan, tetapi sebenarnya minoritas.

Tradisi ini tidak hanya Nahdlatul Ulama, tetapi juga didukung oleh organisasi Islam yang lain seperti; Tarbiyah Islamiyah (Padang), Al Washliyah (Medan), Al Khairat (Palu), Nahdlatul Wathon (Mataram), Darut Dakwah wal- Irsyad/DDI (Sulawesi Selatan) dan Mathlaul Anwar (Banten). Apabila seluruh kekuatan Islam bermazhab Ahlussunnah wal Jamaah Nusantara ini bersatu padu, maka keberadaan Islam Ahlussunnah di Nusantara ini akan tetap lestari bahkan mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakat, bahkan mampu menentukan masa depan bangsa ini.

Mengingat adanya tantangan yang terus-menerus baik dari kalangan Islam radikal yang puritan maupun dari kalangan Islam liberal yang militan, maka eksistensi Islam Ahlussunnah wal Jamaah Nusantara ini perlu diperkuat. Hadirnya Islam Ahhlusunnah wal Jamaah kita harapkan membawa pengaruh besar pada kehidupan bangsa di bumi Nusantara ini.

Saturday, 14 January 2012

Mengenal Kembali si Busuk Muhammad bin Abdul Wahab

Muhammad bin Abdul Wahhab, setan berwajah manusia ini konon berasal dari keluarga yang mulia. Ayahnya, Syeikh Abdul Wahhab dan saudaranya, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, adalah dua orang yang dianggap saleh oleh pemuka-pemuka agama setempat. Berbeda dengan Muhammad bin Abdul Wahhab yang diakui sesat dan menyesatkan oleh mayoritas ulama sedunia. Baca saja kitab “Fitnah al-Wahhabiyah” karya Syeikh Ahmad bin Dahlan al-Makki al-Syafi’i, sang mufti Makkah yang wafat pada tahun 1304 H. Beliau suka menyebut Muhammad bin Abdul Wahhab dengan sebutan “al-Khabits” yang artinya “Si Busuk”.
Syeikh Ahmad bin Dahlan al-Makki al-Syafi’i menceritakan bahwasanya Muhammad bin Abdul Wahhab sejak dini telah diprediksikan sesat oleh ayah, saudara dan guru-gurunya. Jauh sebelum Muhammad bin Abdul Wahhab meraih popularitasnya di Saudi dan dunia, para ulama sekitar telah memberikan warning kepada umat agar berhati-hati darinya, dan ternyata betul apa yang mereka prediksikan. Muhammad bin Abdul Wahhab menentang guru-gurunya, lalu mengkafirkan seluruh ulama yang menghalangi penyesatannya.
Pada tahun 1143 H. mulailah Muhammad bin Abdul Wahhab menyebarkan pemikiran barunya, namun ayah dan guru-gurunya segera menghadang dan menegurnya. Sayangnya, pendirian Muhammab bin Abdul Wahhab terlanjur membatu sampai ayahnya meninggal dunia pada tahun 1153 H. Selanjutnya Muhammad bin Abdul Wahhab memperbaharui metode dakwahnya sehingga mulai diikuti banyak orang awam. Namun mayoritas penduduk kota risih dan hendak membunuhnya, akan tetapi ia melarikan diri ke kota Uyainah, disana ia menghadap amir Uyainah lalu menikahi saudara perempuan sang amir dan kemudian tinggal di Uyainah sambil berdakwah (menyeru) kepada dirinya dan bid’ah yang dibawanya. Tak lama kemudian, penduduk Uyainah pun muak dengannya lalu mengusirnya dari perut kota.
Si Muhammad belum menyerah juga, ia hijrah lagi ke Dir’iyah (sebelah timur kota Najd) dimana kawasan Dir’iyah dan sekitarnya dulu merupakan pusat dakwah Musailamah al-Kadzab yang melahirkan golongan-golongan murtad. Di tengah-tengah kawasan itu jualah Muhammad bin Abdul Wahhab menyebarkan virus-virusnya dan diikuti pula oleh amir setempat serta mayoritas rakyatnya. Saat itu Muhammad bin Abdul Wahhab bertindak seolah ia satu-satunya mujtahid mutlak. Ia tidak bersandar sedikitpun pada ajaran-ajaran para pendahulu, baik imam-imam mujtahid, ulama-ulama salaf maupun ilmuan-ilmuan kontemporer. Disamping itu juga ia tidak memiliki hubungan apapun dengan para mujtahid yang ada.
Demikian apa yang pernah terungkap oleh saudaranya, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, seseorang yang paling mengenali identitas Muhammad bin Abdul Wahhab. Beliau pernah mengungkapkan bahwa “Umat zaman ini sedang diuji coba dengan seseorang yang mengaku sejalan dengan Qur’an dan Sunnah dan beristinbath darinya tanpa memperdulikan siapapun yang berbeda dengannya. Yang tidak sefaham dengannya dianggap kafir, padahal ia tidak memiliki satupun kriteria mujtahid, demi Allah sepersepuluh satupun tidak punya. Namun pemikiran sesatnya itu sudah merajalela, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un“.
Muhammad bin Abdul Wahhab mempunyai ajaran sesat bahwa ziarah maqam dan tawassul merupakan perbuatan syirik. Begitu juga dengan upacara maulid maupun dzikir-dzikir ala tarekat sufi. Konsentrasinya adalah hal-hal prinsip dalam akidah umat Islam. Jeleknya, ia justru mengaku sebagai reformis yang menegakkan purifasi tauhid sehingga memperoleh jumlah pengikut yang cukup besar. Salah seorang pendukungnya adalah Muhammad bin Su’ud yang konon berasal dari kaum Musailamah al-Kadzab. Hal itu membuat para ulama setempat semakin serius melakukan berbagai penyanggahan, termasuk saudara kandungnya sendiri, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab melalui dua karya tulis berjudul “al-Shawa’iq al-Ilahiyah fi al-Raddi ala al-Wahhabiyah” dan “Fashl al-Khithab fi al-Raddi ala Muhammad bin Abdil Wahhab“.
Tak terkecuali Syeikh Muhammad al-Kurdi, guru terbesar Muhammad bin Abdul Wahhab yang secara tegas mengatakan: “Wahai Muhammad bin Abdul Wahhab, demi Allah aku menasehatimu, hentikanlah ulahmu terhadap umat Islam. Apabila kau menemukan seseorang meyakini suatu pengaruh dari selain Allah, maka luruskanlah keyakinannya secara baik-baik dan sebutkan dalil-dalilnya bahwa Allah lah yang mempengaruhi. Apabila ia masih dalam kesesatan, maka kekufurannya dari dan untuk dirinya. Janganlah kamu seenaknya mengkafirkan mayoritas umat yang hidup di dunia, karena itu akan mengantarmu ke neraka”.
Setelah merincikan sisi-sisi historis, Syeikh Ahmad bin Dahlan al-Makki selanjutnya menyimpulkan bahwa fitnah golongan wahabi yang digagas Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan suatu musibah dan malapetaka terbesar yang pernah menimpa umat Islam sepanjang sejarah. Bagi beliau, virus-virus wahabi sebetulnya telah diisyaratkan dalam banyak riwayat hadits sebagai peringatan untuk berhati-hati agar tidak mudah ditipu dan dipermainkan.
Ironinya, golongan wahabi belakangan ini sengaja merubah namanya menjadi golongan salaf atau golongan sunni. Dua nama ini sama sekali tidak pantas bagi mereka yang sudah jelas-jelas sesat di mata jumhur. Terlebih nama “salaf shalih” yang berarti “pendahulu yang saleh”. Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah orang saleh dan bukan pula pengikut para ulama terdahulu. Syeikh Muhammad Sa’id Ramadlan al-Buthi, ulama Syiria, menegaskan dalam kitabnya “al-Salafiyah” bahwa kata salaf hanya teruntukkan bagi mereka para pendahulu yang hidup di masa yang berbarokah, bukan untuk menjadi sebuah nama bagi golongan khawarij modern yang sesat.
Begitu juga dengan nama “sunni”, penamaan tak senonoh ini mengklaim bahwa mayoritas umat Islam di atas permukaan bumi tidak tergolong Ahlussunnah wal Jamaah, semisal kelompok asy’ari, maturidi maupun sufi, karena tidak sejalan dengan wahabi. Penamaan salafi dan sunni sebetulnya hanyalah upaya menutupi diri untuk memperbanyak massa. Itulah jeleknya wahabi.
Mungkin pembaca keberatan bila sosok populer seperti Muhammad bin Abdul Wahhab (yang buku-bukunya terjual laris manis di mana-mana) ditentang secara berlebihan. Rasa keberatan itu merupakan bukti terkuat bahwa pembaca sama sekali belum mengenal siapa Muhammad bin Abdul Wahhab. Pro-kontra damai antar ulama merupakan sebuah keniscayaan yang perlu kita hargai, akan tetapi Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pengecualian terpenting, karena ia bukan ulama, ia hanyalah manusia goblok yang terlanjur di-ulama-kan oleh orang-orang goblok. Syeikh Muhammad Mutawali al-Sya’rowi adalah salah seorang ulama masyhur kontemporer yang secara tegas menjuluki “goblok” kepada orang-orang wahabi.
Sungguh banyak karya para ulama seputar kesesatan Muhammad bin Abdul Wahhab dan ajaran-ajarannya. Antara lain kitab “al-Wahhabiyyun wal Buyut al-Marfu’ah” karya Syeikh Muhammad Ali al-Kardistani, “al-Wahhabiyah wa al-Tauhid” karya Syeikh Ali al-Kaurani, “al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyah” karya Syeikh Sha’ib Abdul Hamid, “al-Durar al-Saniyah fi al-Raddi ala al-Wahhabiyah” karya Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan, “Kasyf al-Irtiyab fi Atba’ Muhammad bin Abdil Wahhab” karya Syeikh Muhsin al-Amin, “Hadzihi Hiya al-Wahhabiyah” karya Syeikh Muhammad Jawwad, dan masih banyak lagi kitab-kitab terpercaya lainnya.
Mufti Mesir, Syeikh Ali Jum’ah al-Syafi’i dalam sebuah fatwanya menegaskan, kelompok wahabi gemar menipu umat dan menyembunyikan kebenaran demi kepentingan politik. Kelompok wahabi sangat anti kepada hadits-hadits dha’if namun di waktu yang sama mereka mendha’ifkan bahkan memaudhu’kan semua hadits yang tak sehaluan dengan pemikiran-pemikiran mereka. Syeikh Ali Jum’ah amat menyayangkan kelompok wahabi yang mengharamkan dzikir berjamaah, dzikir berdiri, dzikir isim mufrad, memuji Rasul, shalat di masjid yang ada maqamnya, bersumpah demi Rasul, menggunakan tasbeh, dan masih banyak lagi korban pengharaman orang-orang bodoh seperti mereka. Mungkin yang halal bagi mereka hanyalah darah orang-orang yang tak sependapat dengan mereka..!!
Senada dengan Habib Ali al-Jufri, ulama negeri Yaman yang sangat mengenal kelompok wahabi. Beliau mengatakan, wahabi jelas-jelas membenci Rasulullah Saw. dan mengkafirkan kedua orangtua Rasul serta paman beliau, Saidina Abu Thalib, seolah-olah mereka telah duduk santai di surga lalu menengok siapa saja penghuni neraka. Menurut Habib Ali al-Jufri, misi wahabi tiada lain menjauhkan hati umat dari cinta Rasul Saw. sebab musuh-musuh Islam tak mampu melakukannya secara terang-terangan. Pembaca dapat membuktikan dengan mudah kebencian wahabi terhadap Rasulullah Saw. dan agama Islam. Selain mengkafirkan orangtua Rasul, mereka juga merendahkan martabat Ahlul Bait, menyalahkan sahabat, mengharamkan tabarruk, maulid, tawassul, pujian kepada Rasul, lalu memusnahkan jejak-jejak Rasul, membatasi dan menghalangi ziarah maqam Rasul, mendha’ifkan atau memaudhu’kan banyak hadits shahih, dan seterusnya.
Penulis bukan yang pertama kali berbicara tentang kedoknya Muhammad bin Abdul Wahhab. Jutaan tokoh terpercaya dari seluruh penjuru dunia, baik terdahulu maupun masa kini, sudah banyak mengupas problema ini sampai tuntas dan dari segala sisi yang terkait. Kita kemana saja selama ini?! dan kenapa masih saja buta?! Jangan sok fair deh!. Ribuan ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang jauh lebih pintar dari anda sudah tegas-tegas melawan dan menentang Muhammad bin Abdul Wahhab. Anda sendiri siapa?!
Dalam sebuah diskusi di Paramadina, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut kelompok wahabi sebagai kelompok yang memiliki rasa rendah diri yang sangat tinggi. Kelompok ini kemudian menutupi rasa rendah dirinya dalam bentuk mental mudah tersinggung, gampang mengkafirkan orang dan aksi-aksi kekerasan. Mereka menganggap diri dan kelompoknya lah yang memiliki otoritas kebenaran sejati. Kelompok-kelompok lain adalah kafir, penghuni neraka dan kalau perlu harus dimusuhi bahkan dibasmi.
Belakangan, ciri-ciri rasa rendah diri seperti dikemukakan Gus Dur itu mudah ditemui dalam praktik fatwa sesat, pengusiran, teror dan pembakaran rumah-rumah kelompok keagamaan di Indonesia yang mereka anggap sesat. Tentu saja mereka tidak mewakili umat Islam secara keseluruhan. Meski terus sesumbar mewakili aspirasi kelompok mayoritas umat, kenyataannya mereka segelintir saja.
Ideologi yang dikembangkan kelompok yang gemar mengkafirkan dan mengeluarkan fatwa sesat ini sekarang dianut Kerajaan Arab Saudi, bahkan kebanyakan pengamat mengatakan bahwa hampir semua gerakan Islam garis keras dewasa ini merupakan bagian dari atau setidaknya dipengaruhi oleh kelompok Wahabi. Ideologi inilah yang dianut secara resmi oleh Taliban di Afganistan dan jaringan al-Qaidah yang beberapa tahun ini aktif melakukan kegiatan teror di pelbagai belahan dunia.
Gus Dur menyebut kelompok Wahabi memiliki rasa rendah diri yang sangat besar karena ideologi ini berasal dari satu wilayah pinggiran di jazirah Arab, yaitu Najd. Kota Najd adalah satu wilayah yang dalam sejarah Islam tidak pernah memunculkan intelektual atau pemimpin Islam yang diakui. Wilayah ini malah terkenal sebagai wilayah yang kerap melahirkan para perampok suku Badui. Nabi sendiri mengakuinya dalam salah satu hadits. Orang-orang Najd juga adalah kelompok orang yang paling akhir masuk Islam. Bahkan Najd melahirkan tokoh oposan terhadap Nabi Muhammad yang amat terkenal: Musailamah al-Kadzab (Musailamah Sang Pembohong). Musailamah mendeklarasikan diri sebagai nabi pesaing untuk menandingi popularitas kenabian Saidina Muhammad Saw. saat itu.
Selain Wahabi, ideologi garis keras pada masa-masa awal Islam, Khawarij, juga didirikan orang-orang Najd. Banyak pengamat menyimpulkan bahwa Wahabisme sebenarnya hanyalah bentuk baru dari ideologi Khawarij. Orang-orang Khawarij lah yang mempopulerkan konsep pengkafiran dan bahkan pembunuhan terhadap mereka yang tidak setuju dengan pendapatnya. Kelompok inilah yang kemudian membantai sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, Saidina Ali bin Abi Thalib, dan melancarkan aksi yang sama terhadap Gubernur Damaskus saat itu, Saidina Amr Bin Ash.
Kaum Wahabi menjadi kekuatan yang destruktif ketika mereka melakukan aliansi mengejutkan dengan sekelompok bandit pimpinan Muhammad bin Su’ud dari wilayah Dir’iyah. Sejak saat itulah kaum Wahabi terus melancarkan intimidasi dan teror dalam bentuk pengkafiran dan pembantaian terhadap orang-orang yang mereka anggap kafir. Arab Saudi lalu mereka kontrol sampai saat ini sehingga menjadi negara yang paling tertutup dan paling tidak bebas di seluruh dunia.
Wahabi kemudian juga dikenal sebagai gerakan anti ilmu pengetahuan dan menjadi salah satu sumber keterbelakangan umat Islam. Mereka menolak apapun yang baru, seperti teknologi dan jaringan informasi, karena itu dianggap bid’ah. Dengan tegas mereka menolak demokrasi. Mereka mengurung perempuan di dalam rumah. Mereka mengharamkan nyanyian. Mereka membenci kesenian. Memanjangkan jenggot bagi laki-laki dewasa adalah kewajiban. Buku-buku tasawuf dan filsafat yang merupakan salah satu warisan kekayaan intelektual Islam dianggap barang haram. Praktek kehidupan sosial seperti ini tampak nyata dalam kehidupan masyarakat Afganistan di bawah kekuasaan Taliban yang berideologi Wahabisme.
Dengan keuntungan minyak yang masih mengucur sampai hari ini, penguasa Saudi sukses mengekspor ideologi Wahabi ke seluruh pelosok dunia, tidak hanya ke negara-negara Islam, melainkan juga ke Eropa dan Amerika. Menurut Hamid Alghar, kelompok ini berhasil meraih pengikut sekitar 10% dari keseluruhan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Anak-anak muda yang menyediakan diri menjadi martir dalam kegiatan bom bunuh diri di Eropa dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun ini, sebetulnya datang dari generasi yang benar-benar terdidik secara Barat. Tapi, ideologi yang diekspor penguasa telah menggerakkan mereka untuk melakukan aksi terorisme.
Keluarga Su’ud yang kini menguasai otoritas politik dan agama di Arab Saudi sesungguhnya bukanlah keluarga yang dikenal saleh, kalau tidak dapat disebut kurang bermoral. Stephen Sulaiman Schwartz menyebut keluarga keluarga Su’ud sangat gemar menghambur-hamburkan kekayaan Saudi untuk keperluan judi dan main perempuan. Dengan kelakuan semacam itu, jumlah pangeran Saudi saat ini ditaksir mencapai 4000 orang. Artinya, seorang raja yang memiliki ratusan isteri dan selir bukanlah dongeng belaka di Arab Saudi.
Schwartz menyebut dukungan terhadap Wahabisme yang dilakukan penguasa Saudi adalah bentuk pengelabuan atas praktek tak bermoral yang mereka lakukan. Ideologi yang disebarkan oleh keluarga mantan bandit inilah yang kemudian dianut, atau setidaknya mempengaruhi kelompok Islam Indonesia yang belakangan gemar mengkafirkan dan mengeluarkan fatwa sesat terhadap mereka yang berbeda pendapat. Pengetahuannya terhadap Islam dan sejarahnya tidak mendalam, bahkan mereka bukan orang-orang yang cukup religius. “Saya percaya bahwa kekerasan bukanlah pantulan dari religiositas seseorang atau sekelompok orang. Mungkin, rasa rendah diri itulah yang justru mendatangkan brutalisme” ungkap Saidiman dalam sebuah artikel liberalnya.
Sedangkan Abdul Moqsith Ghazali, ia mengemukakan, gerakan untuk mewahabikan umat Islam Indonesia tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Para aktifis wahabisme cukup agresif dalam mengkampanyekan pikiran-pikiran dan ideologi para imamnya. Mereka bukan hanya memekikkan khutbah wahabisme dari dalam masjid-masjid mewah di kota-kota besar seperti Jakarta, melainkan juga blusukan ke pedalaman dan dusun-dusun di Indonesia. Ada tengara bahwa orang-orang yang berhimpun dalam ormas keagamaan Islam moderat pelan tapi pasti kini mulai terpengaruh dan terpesona dengan gagasan-gagasan wahabisme yang sebagian besar berjangkar pada pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab.
Memang, pada awalnya wahabisme berdiri untuk merampingkan Islam yang sarat beban kesejarahan. Ia ingin membersihkan Islam dari beban historisnya yang kelam, yaitu dengan cara mengembalikan umat Islam kepada induk ajarannya, al-Qur’an dan al-Sunnah. Seruan ini mestinya sangat positif bagi kerja perampingan dan purifikasi itu. Tapi, ternyata wahabisme tidaklah seindah yang dibayangkan. Di tangan para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab yang fanatik dan militan, implementasi ideologi wahabisme kemudian terjatuh pada tindakan kontra produktif. Di mana-mana mereka menyebarkan tuduhan bid’ah kepada umat Islam yang tidak seideologi dengan mereka. Bahkan, tidak jarang mereka mengkafirkan dan memusyrikkan umat Islam lain.
Kini mereka mulai merambah kawasan Indonesia, melakukan wahabisasi di pelbagai daerah. Mereka mencicil ajaran-ajarannya untuk disampaikan kepada umat Islam Indonesia. Ada beberapa ciri cukup menonjol yang penting diketahui dari gerakan wahabisasi itu. Pertama, mereka mempersoalkan dasar negara Indonesia dan UUD ’45. Mereka tidak setuju, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini dipandu oleh sebuah pakem sekular, hasil reka cipta manusia yang relatif bernama Pancasila. Menurut mereka, Pancasila adalah ijtihad manusia dan bukan ijtihad Tuhan. Semboyan mereka cukup gamblang bahwa hanya dengan mengubah dasar negara, dari Pancasila ke Islam, Indonesia akan terbebas dari murka Allah. Mereka lupa bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai yang sangat Islami. Tak tampak di dalamnya hal-hal yang bertentangan dengan Islam.
Kedua, mereka menolak demokrasi karena demokrasi dianggap sebagai sistem kafir. Mereka menolak dasar-dasar HAM yang sesungguhnya berpondasikan ajaran Islam yang kukuh. Mereka mengajukan keberatan terhadap konsep kebebasan beragama, kebebasan berpikir, dan sebagainya. Menurut mereka tidak ada hak asaski manusia (HAM), yang ada hanyalah hak asasi Allah (HAA).
Ketiga, mereka berusaha bagi tegaknnya partikular-partikular syariat dan biasanya agak abai terhadap syariat universal, seperti pemberantakan KKN dan sebagainya. Ini misalnya tampak dari sikap tidak kritis kelompok wahabi terhadap ketidakberesan yang telah lama berlangsung di lingkungan kerajaan Saudi sendiri, sistem pemerintahan yang disokong demikian kuat oleh kelompok Wahabi. Kelompok Wahabi cukup puas ketika shalat berjemaah diformalisasikan. Sementara, bersamaan dengan itu, kejahatan terhadap kemanusiaan terus berlangsung, tanpa interupsi dari mereka.
Keempat, mereka juga intensif menggelorakan semangat penyangkalan atas segala sesuatu yang berbau tradisi. Kreasi-kreasi kebudayaan lokal dipandang bid’ah, takhyul dan khurafat yang mesti diberantas. Dahulu dan sampai sekarang, orang-orang NU dan NW mendapat serangan bertubi-tubi dari para pengikut wahabisme itu.
Empat hal itu adalah refrain yang kini rajin diulang-ulang oleh kelompok Wahabi Indonesia. Pokok-pokok tersebut adalah sebagian dari juklak wahabisme yang telah lama disusun di Saudi, dan kemudian dipaketkan secara berangsur dan satu arah ke Indonesia. Kedepan jika semuanya sudah berhasil diwahabikan, maka sangat boleh jadi Indonesia akan menjadi repetisi Arab saudi dimana kreasi-kreasi lokal dibid’ahkan. Betapa keringnya cara ber-Islam yang demikian itu, ber-Islam tanpa inovasi dan improvisasi.
Akhirnya, tiada kata seindah doa. Semoga laknat Tuhan selalu menyertai Muhammad bin Abdul Wahhab dan para penyembahnya…!! Amien ya Rabbal Alamin.
Muhammad bin Abdul Wahhab, setan berwajah manusia ini konon berasal dari keluarga yang mulia. Ayahnya, Syeikh Abdul Wahhab dan saudaranya, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, adalah dua orang yang dianggap saleh oleh pemuka-pemuka agama setempat. Berbeda dengan Muhammad bin Abdul Wahhab yang diakui sesat dan menyesatkan oleh mayoritas ulama sedunia. Baca saja kitab “Fitnah al-Wahhabiyah” karya Syeikh Ahmad bin Dahlan al-Makki al-Syafi’i, sang mufti Makkah yang wafat pada tahun 1304 H. Beliau suka menyebut Muhammad bin Abdul Wahhab dengan sebutan “al-Khabits” yang artinya “Si Busuk”.
Syeikh Ahmad bin Dahlan al-Makki al-Syafi’i menceritakan bahwasanya Muhammad bin Abdul Wahhab sejak dini telah diprediksikan sesat oleh ayah, saudara dan guru-gurunya. Jauh sebelum Muhammad bin Abdul Wahhab meraih popularitasnya di Saudi dan dunia, para ulama sekitar telah memberikan warning kepada umat agar berhati-hati darinya, dan ternyata betul apa yang mereka prediksikan. Muhammad bin Abdul Wahhab menentang guru-gurunya, lalu mengkafirkan seluruh ulama yang menghalangi penyesatannya.
Pada tahun 1143 H. mulailah Muhammad bin Abdul Wahhab menyebarkan pemikiran barunya, namun ayah dan guru-gurunya segera menghadang dan menegurnya. Sayangnya, pendirian Muhammab bin Abdul Wahhab terlanjur membatu sampai ayahnya meninggal dunia pada tahun 1153 H. Selanjutnya Muhammad bin Abdul Wahhab memperbaharui metode dakwahnya sehingga mulai diikuti banyak orang awam. Namun mayoritas penduduk kota risih dan hendak membunuhnya, akan tetapi ia melarikan diri ke kota Uyainah, disana ia menghadap amir Uyainah lalu menikahi saudara perempuan sang amir dan kemudian tinggal di Uyainah sambil berdakwah (menyeru) kepada dirinya dan bid’ah yang dibawanya. Tak lama kemudian, penduduk Uyainah pun muak dengannya lalu mengusirnya dari perut kota.
Si Muhammad belum menyerah juga, ia hijrah lagi ke Dir’iyah (sebelah timur kota Najd) dimana kawasan Dir’iyah dan sekitarnya dulu merupakan pusat dakwah Musailamah al-Kadzab yang melahirkan golongan-golongan murtad. Di tengah-tengah kawasan itu jualah Muhammad bin Abdul Wahhab menyebarkan virus-virusnya dan diikuti pula oleh amir setempat serta mayoritas rakyatnya. Saat itu Muhammad bin Abdul Wahhab bertindak seolah ia satu-satunya mujtahid mutlak. Ia tidak bersandar sedikitpun pada ajaran-ajaran para pendahulu, baik imam-imam mujtahid, ulama-ulama salaf maupun ilmuan-ilmuan kontemporer. Disamping itu juga ia tidak memiliki hubungan apapun dengan para mujtahid yang ada.
Demikian apa yang pernah terungkap oleh saudaranya, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, seseorang yang paling mengenali identitas Muhammad bin Abdul Wahhab. Beliau pernah mengungkapkan bahwa “Umat zaman ini sedang diuji coba dengan seseorang yang mengaku sejalan dengan Qur’an dan Sunnah dan beristinbath darinya tanpa memperdulikan siapapun yang berbeda dengannya. Yang tidak sefaham dengannya dianggap kafir, padahal ia tidak memiliki satupun kriteria mujtahid, demi Allah sepersepuluh satupun tidak punya. Namun pemikiran sesatnya itu sudah merajalela, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un“.
Muhammad bin Abdul Wahhab mempunyai ajaran sesat bahwa ziarah maqam dan tawassul merupakan perbuatan syirik. Begitu juga dengan upacara maulid maupun dzikir-dzikir ala tarekat sufi. Konsentrasinya adalah hal-hal prinsip dalam akidah umat Islam. Jeleknya, ia justru mengaku sebagai reformis yang menegakkan purifasi tauhid sehingga memperoleh jumlah pengikut yang cukup besar. Salah seorang pendukungnya adalah Muhammad bin Su’ud yang konon berasal dari kaum Musailamah al-Kadzab. Hal itu membuat para ulama setempat semakin serius melakukan berbagai penyanggahan, termasuk saudara kandungnya sendiri, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab melalui dua karya tulis berjudul “al-Shawa’iq al-Ilahiyah fi al-Raddi ala al-Wahhabiyah” dan “Fashl al-Khithab fi al-Raddi ala Muhammad bin Abdil Wahhab“.
Tak terkecuali Syeikh Muhammad al-Kurdi, guru terbesar Muhammad bin Abdul Wahhab yang secara tegas mengatakan: “Wahai Muhammad bin Abdul Wahhab, demi Allah aku menasehatimu, hentikanlah ulahmu terhadap umat Islam. Apabila kau menemukan seseorang meyakini suatu pengaruh dari selain Allah, maka luruskanlah keyakinannya secara baik-baik dan sebutkan dalil-dalilnya bahwa Allah lah yang mempengaruhi. Apabila ia masih dalam kesesatan, maka kekufurannya dari dan untuk dirinya. Janganlah kamu seenaknya mengkafirkan mayoritas umat yang hidup di dunia, karena itu akan mengantarmu ke neraka”.
Setelah merincikan sisi-sisi historis, Syeikh Ahmad bin Dahlan al-Makki selanjutnya menyimpulkan bahwa fitnah golongan wahabi yang digagas Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan suatu musibah dan malapetaka terbesar yang pernah menimpa umat Islam sepanjang sejarah. Bagi beliau, virus-virus wahabi sebetulnya telah diisyaratkan dalam banyak riwayat hadits sebagai peringatan untuk berhati-hati agar tidak mudah ditipu dan dipermainkan.
Ironinya, golongan wahabi belakangan ini sengaja merubah namanya menjadi golongan salaf atau golongan sunni. Dua nama ini sama sekali tidak pantas bagi mereka yang sudah jelas-jelas sesat di mata jumhur. Terlebih nama “salaf shalih” yang berarti “pendahulu yang saleh”. Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah orang saleh dan bukan pula pengikut para ulama terdahulu. Syeikh Muhammad Sa’id Ramadlan al-Buthi, ulama Syiria, menegaskan dalam kitabnya “al-Salafiyah” bahwa kata salaf hanya teruntukkan bagi mereka para pendahulu yang hidup di masa yang berbarokah, bukan untuk menjadi sebuah nama bagi golongan khawarij modern yang sesat.
Begitu juga dengan nama “sunni”, penamaan tak senonoh ini mengklaim bahwa mayoritas umat Islam di atas permukaan bumi tidak tergolong Ahlussunnah wal Jamaah, semisal kelompok asy’ari, maturidi maupun sufi, karena tidak sejalan dengan wahabi. Penamaan salafi dan sunni sebetulnya hanyalah upaya menutupi diri untuk memperbanyak massa. Itulah jeleknya wahabi.
Mungkin pembaca keberatan bila sosok populer seperti Muhammad bin Abdul Wahhab (yang buku-bukunya terjual laris manis di mana-mana) ditentang secara berlebihan. Rasa keberatan itu merupakan bukti terkuat bahwa pembaca sama sekali belum mengenal siapa Muhammad bin Abdul Wahhab. Pro-kontra damai antar ulama merupakan sebuah keniscayaan yang perlu kita hargai, akan tetapi Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pengecualian terpenting, karena ia bukan ulama, ia hanyalah manusia goblok yang terlanjur di-ulama-kan oleh orang-orang goblok. Syeikh Muhammad Mutawali al-Sya’rowi adalah salah seorang ulama masyhur kontemporer yang secara tegas menjuluki “goblok” kepada orang-orang wahabi.
Sungguh banyak karya para ulama seputar kesesatan Muhammad bin Abdul Wahhab dan ajaran-ajarannya. Antara lain kitab “al-Wahhabiyyun wal Buyut al-Marfu’ah” karya Syeikh Muhammad Ali al-Kardistani, “al-Wahhabiyah wa al-Tauhid” karya Syeikh Ali al-Kaurani, “al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyah” karya Syeikh Sha’ib Abdul Hamid, “al-Durar al-Saniyah fi al-Raddi ala al-Wahhabiyah” karya Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan, “Kasyf al-Irtiyab fi Atba’ Muhammad bin Abdil Wahhab” karya Syeikh Muhsin al-Amin, “Hadzihi Hiya al-Wahhabiyah” karya Syeikh Muhammad Jawwad, dan masih banyak lagi kitab-kitab terpercaya lainnya.
Mufti Mesir, Syeikh Ali Jum’ah al-Syafi’i dalam sebuah fatwanya menegaskan, kelompok wahabi gemar menipu umat dan menyembunyikan kebenaran demi kepentingan politik. Kelompok wahabi sangat anti kepada hadits-hadits dha’if namun di waktu yang sama mereka mendha’ifkan bahkan memaudhu’kan semua hadits yang tak sehaluan dengan pemikiran-pemikiran mereka. Syeikh Ali Jum’ah amat menyayangkan kelompok wahabi yang mengharamkan dzikir berjamaah, dzikir berdiri, dzikir isim mufrad, memuji Rasul, shalat di masjid yang ada maqamnya, bersumpah demi Rasul, menggunakan tasbeh, dan masih banyak lagi korban pengharaman orang-orang bodoh seperti mereka. Mungkin yang halal bagi mereka hanyalah darah orang-orang yang tak sependapat dengan mereka..!!
Senada dengan Habib Ali al-Jufri, ulama negeri Yaman yang sangat mengenal kelompok wahabi. Beliau mengatakan, wahabi jelas-jelas membenci Rasulullah Saw. dan mengkafirkan kedua orangtua Rasul serta paman beliau, Saidina Abu Thalib, seolah-olah mereka telah duduk santai di surga lalu menengok siapa saja penghuni neraka. Menurut Habib Ali al-Jufri, misi wahabi tiada lain menjauhkan hati umat dari cinta Rasul Saw. sebab musuh-musuh Islam tak mampu melakukannya secara terang-terangan. Pembaca dapat membuktikan dengan mudah kebencian wahabi terhadap Rasulullah Saw. dan agama Islam. Selain mengkafirkan orangtua Rasul, mereka juga merendahkan martabat Ahlul Bait, menyalahkan sahabat, mengharamkan tabarruk, maulid, tawassul, pujian kepada Rasul, lalu memusnahkan jejak-jejak Rasul, membatasi dan menghalangi ziarah maqam Rasul, mendha’ifkan atau memaudhu’kan banyak hadits shahih, dan seterusnya.
Penulis bukan yang pertama kali berbicara tentang kedoknya Muhammad bin Abdul Wahhab. Jutaan tokoh terpercaya dari seluruh penjuru dunia, baik terdahulu maupun masa kini, sudah banyak mengupas problema ini sampai tuntas dan dari segala sisi yang terkait. Kita kemana saja selama ini?! dan kenapa masih saja buta?! Jangan sok fair deh!. Ribuan ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang jauh lebih pintar dari anda sudah tegas-tegas melawan dan menentang Muhammad bin Abdul Wahhab. Anda sendiri siapa?!
Dalam sebuah diskusi di Paramadina, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut kelompok wahabi sebagai kelompok yang memiliki rasa rendah diri yang sangat tinggi. Kelompok ini kemudian menutupi rasa rendah dirinya dalam bentuk mental mudah tersinggung, gampang mengkafirkan orang dan aksi-aksi kekerasan. Mereka menganggap diri dan kelompoknya lah yang memiliki otoritas kebenaran sejati. Kelompok-kelompok lain adalah kafir, penghuni neraka dan kalau perlu harus dimusuhi bahkan dibasmi.
Belakangan, ciri-ciri rasa rendah diri seperti dikemukakan Gus Dur itu mudah ditemui dalam praktik fatwa sesat, pengusiran, teror dan pembakaran rumah-rumah kelompok keagamaan di Indonesia yang mereka anggap sesat. Tentu saja mereka tidak mewakili umat Islam secara keseluruhan. Meski terus sesumbar mewakili aspirasi kelompok mayoritas umat, kenyataannya mereka segelintir saja.
Ideologi yang dikembangkan kelompok yang gemar mengkafirkan dan mengeluarkan fatwa sesat ini sekarang dianut Kerajaan Arab Saudi, bahkan kebanyakan pengamat mengatakan bahwa hampir semua gerakan Islam garis keras dewasa ini merupakan bagian dari atau setidaknya dipengaruhi oleh kelompok Wahabi. Ideologi inilah yang dianut secara resmi oleh Taliban di Afganistan dan jaringan al-Qaidah yang beberapa tahun ini aktif melakukan kegiatan teror di pelbagai belahan dunia.
Gus Dur menyebut kelompok Wahabi memiliki rasa rendah diri yang sangat besar karena ideologi ini berasal dari satu wilayah pinggiran di jazirah Arab, yaitu Najd. Kota Najd adalah satu wilayah yang dalam sejarah Islam tidak pernah memunculkan intelektual atau pemimpin Islam yang diakui. Wilayah ini malah terkenal sebagai wilayah yang kerap melahirkan para perampok suku Badui. Nabi sendiri mengakuinya dalam salah satu hadits. Orang-orang Najd juga adalah kelompok orang yang paling akhir masuk Islam. Bahkan Najd melahirkan tokoh oposan terhadap Nabi Muhammad yang amat terkenal: Musailamah al-Kadzab (Musailamah Sang Pembohong). Musailamah mendeklarasikan diri sebagai nabi pesaing untuk menandingi popularitas kenabian Saidina Muhammad Saw. saat itu.
Selain Wahabi, ideologi garis keras pada masa-masa awal Islam, Khawarij, juga didirikan orang-orang Najd. Banyak pengamat menyimpulkan bahwa Wahabisme sebenarnya hanyalah bentuk baru dari ideologi Khawarij. Orang-orang Khawarij lah yang mempopulerkan konsep pengkafiran dan bahkan pembunuhan terhadap mereka yang tidak setuju dengan pendapatnya. Kelompok inilah yang kemudian membantai sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, Saidina Ali bin Abi Thalib, dan melancarkan aksi yang sama terhadap Gubernur Damaskus saat itu, Saidina Amr Bin Ash.
Kaum Wahabi menjadi kekuatan yang destruktif ketika mereka melakukan aliansi mengejutkan dengan sekelompok bandit pimpinan Muhammad bin Su’ud dari wilayah Dir’iyah. Sejak saat itulah kaum Wahabi terus melancarkan intimidasi dan teror dalam bentuk pengkafiran dan pembantaian terhadap orang-orang yang mereka anggap kafir. Arab Saudi lalu mereka kontrol sampai saat ini sehingga menjadi negara yang paling tertutup dan paling tidak bebas di seluruh dunia.
Wahabi kemudian juga dikenal sebagai gerakan anti ilmu pengetahuan dan menjadi salah satu sumber keterbelakangan umat Islam. Mereka menolak apapun yang baru, seperti teknologi dan jaringan informasi, karena itu dianggap bid’ah. Dengan tegas mereka menolak demokrasi. Mereka mengurung perempuan di dalam rumah. Mereka mengharamkan nyanyian. Mereka membenci kesenian. Memanjangkan jenggot bagi laki-laki dewasa adalah kewajiban. Buku-buku tasawuf dan filsafat yang merupakan salah satu warisan kekayaan intelektual Islam dianggap barang haram. Praktek kehidupan sosial seperti ini tampak nyata dalam kehidupan masyarakat Afganistan di bawah kekuasaan Taliban yang berideologi Wahabisme.
Dengan keuntungan minyak yang masih mengucur sampai hari ini, penguasa Saudi sukses mengekspor ideologi Wahabi ke seluruh pelosok dunia, tidak hanya ke negara-negara Islam, melainkan juga ke Eropa dan Amerika. Menurut Hamid Alghar, kelompok ini berhasil meraih pengikut sekitar 10% dari keseluruhan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Anak-anak muda yang menyediakan diri menjadi martir dalam kegiatan bom bunuh diri di Eropa dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun ini, sebetulnya datang dari generasi yang benar-benar terdidik secara Barat. Tapi, ideologi yang diekspor penguasa telah menggerakkan mereka untuk melakukan aksi terorisme.
Keluarga Su’ud yang kini menguasai otoritas politik dan agama di Arab Saudi sesungguhnya bukanlah keluarga yang dikenal saleh, kalau tidak dapat disebut kurang bermoral. Stephen Sulaiman Schwartz menyebut keluarga keluarga Su’ud sangat gemar menghambur-hamburkan kekayaan Saudi untuk keperluan judi dan main perempuan. Dengan kelakuan semacam itu, jumlah pangeran Saudi saat ini ditaksir mencapai 4000 orang. Artinya, seorang raja yang memiliki ratusan isteri dan selir bukanlah dongeng belaka di Arab Saudi.
Schwartz menyebut dukungan terhadap Wahabisme yang dilakukan penguasa Saudi adalah bentuk pengelabuan atas praktek tak bermoral yang mereka lakukan. Ideologi yang disebarkan oleh keluarga mantan bandit inilah yang kemudian dianut, atau setidaknya mempengaruhi kelompok Islam Indonesia yang belakangan gemar mengkafirkan dan mengeluarkan fatwa sesat terhadap mereka yang berbeda pendapat. Pengetahuannya terhadap Islam dan sejarahnya tidak mendalam, bahkan mereka bukan orang-orang yang cukup religius. “Saya percaya bahwa kekerasan bukanlah pantulan dari religiositas seseorang atau sekelompok orang. Mungkin, rasa rendah diri itulah yang justru mendatangkan brutalisme” ungkap Saidiman dalam sebuah artikel liberalnya.
Sedangkan Abdul Moqsith Ghazali, ia mengemukakan, gerakan untuk mewahabikan umat Islam Indonesia tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Para aktifis wahabisme cukup agresif dalam mengkampanyekan pikiran-pikiran dan ideologi para imamnya. Mereka bukan hanya memekikkan khutbah wahabisme dari dalam masjid-masjid mewah di kota-kota besar seperti Jakarta, melainkan juga blusukan ke pedalaman dan dusun-dusun di Indonesia. Ada tengara bahwa orang-orang yang berhimpun dalam ormas keagamaan Islam moderat pelan tapi pasti kini mulai terpengaruh dan terpesona dengan gagasan-gagasan wahabisme yang sebagian besar berjangkar pada pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab.
Memang, pada awalnya wahabisme berdiri untuk merampingkan Islam yang sarat beban kesejarahan. Ia ingin membersihkan Islam dari beban historisnya yang kelam, yaitu dengan cara mengembalikan umat Islam kepada induk ajarannya, al-Qur’an dan al-Sunnah. Seruan ini mestinya sangat positif bagi kerja perampingan dan purifikasi itu. Tapi, ternyata wahabisme tidaklah seindah yang dibayangkan. Di tangan para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab yang fanatik dan militan, implementasi ideologi wahabisme kemudian terjatuh pada tindakan kontra produktif. Di mana-mana mereka menyebarkan tuduhan bid’ah kepada umat Islam yang tidak seideologi dengan mereka. Bahkan, tidak jarang mereka mengkafirkan dan memusyrikkan umat Islam lain.
Kini mereka mulai merambah kawasan Indonesia, melakukan wahabisasi di pelbagai daerah. Mereka mencicil ajaran-ajarannya untuk disampaikan kepada umat Islam Indonesia. Ada beberapa ciri cukup menonjol yang penting diketahui dari gerakan wahabisasi itu. Pertama, mereka mempersoalkan dasar negara Indonesia dan UUD ’45. Mereka tidak setuju, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini dipandu oleh sebuah pakem sekular, hasil reka cipta manusia yang relatif bernama Pancasila. Menurut mereka, Pancasila adalah ijtihad manusia dan bukan ijtihad Tuhan. Semboyan mereka cukup gamblang bahwa hanya dengan mengubah dasar negara, dari Pancasila ke Islam, Indonesia akan terbebas dari murka Allah. Mereka lupa bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai yang sangat Islami. Tak tampak di dalamnya hal-hal yang bertentangan dengan Islam.
Kedua, mereka menolak demokrasi karena demokrasi dianggap sebagai sistem kafir. Mereka menolak dasar-dasar HAM yang sesungguhnya berpondasikan ajaran Islam yang kukuh. Mereka mengajukan keberatan terhadap konsep kebebasan beragama, kebebasan berpikir, dan sebagainya. Menurut mereka tidak ada hak asaski manusia (HAM), yang ada hanyalah hak asasi Allah (HAA).
Ketiga, mereka berusaha bagi tegaknnya partikular-partikular syariat dan biasanya agak abai terhadap syariat universal, seperti pemberantakan KKN dan sebagainya. Ini misalnya tampak dari sikap tidak kritis kelompok wahabi terhadap ketidakberesan yang telah lama berlangsung di lingkungan kerajaan Saudi sendiri, sistem pemerintahan yang disokong demikian kuat oleh kelompok Wahabi. Kelompok Wahabi cukup puas ketika shalat berjemaah diformalisasikan. Sementara, bersamaan dengan itu, kejahatan terhadap kemanusiaan terus berlangsung, tanpa interupsi dari mereka.
Keempat, mereka juga intensif menggelorakan semangat penyangkalan atas segala sesuatu yang berbau tradisi. Kreasi-kreasi kebudayaan lokal dipandang bid’ah, takhyul dan khurafat yang mesti diberantas. Dahulu dan sampai sekarang, orang-orang NU dan NW mendapat serangan bertubi-tubi dari para pengikut wahabisme itu.
Empat hal itu adalah refrain yang kini rajin diulang-ulang oleh kelompok Wahabi Indonesia. Pokok-pokok tersebut adalah sebagian dari juklak wahabisme yang telah lama disusun di Saudi, dan kemudian dipaketkan secara berangsur dan satu arah ke Indonesia. Kedepan jika semuanya sudah berhasil diwahabikan, maka sangat boleh jadi Indonesia akan menjadi repetisi Arab saudi dimana kreasi-kreasi lokal dibid’ahkan. Betapa keringnya cara ber-Islam yang demikian itu, ber-Islam tanpa inovasi dan improvisasi.
Akhirnya, tiada kata seindah doa. Semoga laknat Tuhan selalu menyertai Muhammad bin Abdul Wahhab dan para penyembahnya…!! Amien ya Rabbal Alamin.
.comments { clear: both; margin-top: 10px; margin-bottom: 0px; line-height: 1em; } .comments .comments-content { font-size: 12px; margin-bottom: 16px; font-family: Verdana; font-weight: normal; text-align:left; line-height: 1.4em; } .comments .continue a, .comments .comment .comment-actions a { display:inline; font-family:Arial, Helvetica, sans-serif; font-size:12px; padding: 2px 5px; text-decoration: none; text-shadow:0 1px 1px rgba(0,0,0,.3); color:#FFF; -webkit-box-shadow: 0 1px 2px rgba(0,0,0,.2); -moz-box-shadow: 0 1px 2px rgba(0,0,0,.2); box-shadow: 0 1px 2px rgba(0,0,0,.2); -webkit-border-radius: 3px; -moz-border-radius: 3px; border-radius: 3px; margin-right: 10px; border: 1px solid #3079ED; background: #0066FF; background: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, from(#0099FF), to(#009999)); background: -moz-linear-gradient(top, #0099FF, #009999); filter: progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(startColorstr='#0099FF', endColorstr='#009999'); } .comments .continue a:hover, .comments .comment .comment-actions a:hover { text-decoration: none; background:#0099FF; background: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, from(#009999), to(#0099FF)); background: -moz-linear-gradient(top, #009999, #0099FF); filter: progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(startColorstr='#009999', endColorstr='#0099FF'); } .comments .continue a:active, .comments .comment .comment-actions a:active { position: relative; top:1px; background: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, from(#0066FF), to(#0099CC)); background: -moz-linear-gradient(top, #0066FF, #0099CC); filter: progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(startColorstr='#0066FF', endColorstr='#0099CC'); } .comments .comments-content .comment-thread ol { list-style-type: none; padding: 0; text-align: none; } .comments .comments-content .inline-thread { padding: 0.5em 1em 0 1em; } .comments .comments-content .comment-thread { margin: 8px 0px 0px 0px; } .comments .comments-content .comment-thread:empty { display: none; } .comments .comments-content .comment-replies { margin-top: 1em; margin-left: 40px; font-size:12px; } .comments .comments-content .comment { padding-bottom:8px; margin-bottom: 0px } .comments .comments-content .comment:first-child { padding-top:16px; } .comments .comments-content .comment:last-child { border-bottom:0; padding-bottom:0; } .comments .comments-content .comment-body { position:relative; } .comments .comments-content .user { font-style:normal; font-weight:bold; } .comments .comments-content .user a { color: #444; } .comments .comments-content .user a:hover { text-decoration: none; color: #555; } .comments .comments-content .icon.blog-author { width: 18px; height: 18px; display: inline-block; margin: 0 0 -4px 6px; } .comments .comments-content .datetime { margin-left:6px; color: #999; font-style: italic; font-size: 11px; float: right; } .comments .comments-content .comment-content { font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12.5px; line-height: 19px; } .comments .comments-content .comment-content { font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12.5px; line-height: 19px; text-align:none; margin: 15px 0 15px; } .comments .comments-content .owner-actions { position:absolute; right:0; top:0; } .comments .comments-replybox { border: none; height: 250px; width: 100%; } .comments .comment-replybox-single { margin-top: 5px; margin-left: 48px; } .comments .comment-replybox-thread { margin-top: 5px; } .comments .comments-content .loadmore a { display: block; padding: 10px 16px; text-align: center; } .comments .thread-toggle { cursor: pointer; display: inline-block; } .comments .comments-content .loadmore { cursor: pointer; max-height: 3em; margin-top: 3em; } .comments .comments-content .loadmore.loaded { max-height: 0px; opacity: 0; overflow: hidden; } .comments .thread-chrome.thread-collapsed { display: none; } .comments .thread-toggle { display: inline-block; } .comments .thread-toggle .thread-arrow { display: inline-block; height: 6px; width: 7px; overflow: visible; margin: 0.3em; padding-right: 4px; } .comments .thread-expanded .thread-arrow { background: url("data:image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAAAc AAAAHCAYAAADEUlfTAAAAG0lEQVR42mNgwAfKy8v/48I4FeA0AacVDFQBAP9wJkE/KhUMAAAAAElFTkSuQmCC") no-repeat scroll 0 0 transparent; } .comments .thread-collapsed .thread-arrow { background: url("data:image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAA AcAAAAHCAYAAADEUlfTAAAAJUlEQVR42mNgAILy8vL/DLgASBKnApgkVgXIkhgKiNKJ005s4gDLbCZBiSxfygAAAAB JRU5ErkJggg==") no-repeat scroll 0 0 transparent; } .comments .avatar-image-container { float: left; overflow: hidden; } .comments .avatar-image-container img { width: 36px; } .comments .comment-block { margin-left: 48px; position: relative; padding: 15px 20px 15px 20px; background: #F7F7F7; border: 1px solid #E4E4E4; overflow: hidden; border-radius: 4px; -moz-border-radius: 4px; -webkit-border-radius: 4px; border-image: initial; }