Wednesday, 21 March 2012

Asy’ariyyah Bukan Ahlussunnah Kata Wahhabi

Oleh : Sultan Mahesa Jenar
 
Asy’ariyyah adalah sebutan bagi sebuah faham atau ajaran aqidah yang dinisbatkan kepada Syaikh Abul-Hasan Ali al-Asy’ari (Lahir dan wafat di Basrah tahun 260 H- 324 H.).
 Para pengikutnya sering disebut dengan Asy’ariyyuun atau Ahlussunnah al-Asya’irah (Bukan mazhab al-Asy’ari, tapi yg mengikuti metode penanaman Aqidah Shohihah).
Abul-Hasan Ali Al-Asy’ari, yang kemudian dikenal sebagai pemersatu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, memiliki garis keturunan (garis ke-10) dari seorang Sahabat Rasulullah Saw. yang terkenal keindahan suaranya dalam membaca al-Qur’an, yaitu Abu Musa al-Asy’ari. Beliau lahir 55 tahun setelah wafatnya al-Imam Syafi’I, dan Abul-Hasan al-Asy’ari adalah pengikut Mazhab Syafi’i.
Kaum USILIYYUN telah terang-terangan menyatakan bahwa Asy’ariyyah bukan Ahlussunnah, seperti dalam artikel:
http://ahlussunnah.info/2009/12/29/artikel-ke-29-asy%E2%80%99ariyyah-bukan-ahlus-sunnah/8/
.
Asy’ariyyah menurut kaum Usiliyyun wal Jama’ah adalah bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah, melainkan aliran bid’ah yang harus dijauhi. Perhatikanlah fatwa-fatwa ulama Salafi & Wahabi berikut ini:
SYAIKH ABDULLAH BIN ABDURRAHMAN AL-JIBRIN (ulama Usiliyyun)berkata:
“Kemudian muncul juga kelompok yang lain, dan mereka menyebut dirinya Asy’ariyah. Mereka mengingkari sebagian sifat Allah dan menetapkan sebagian yang lain. Mereka menetapkan sifat-sifat tersebut berdasar kepada akal. Maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan bid’ah dan perkara baru dalam agama Islam” (Ensiklopedia Bid’ah, hal. 140).
SYAIKH MUHAMMAD BIN MUSA ALU NASHR (ulama Usiliyyun Salafy Wahhabi) berkata:
“Tetapi, apakah Asya’irah dan Maturidiyah itu Ahlussunnah, ataukah mereka termasuk Ahli Kalam? Hakikatnya, mereka ini termasuk Ahli Kalam. Mereka (Kaum Asy’ariyyah) bukan termasuk Ahlussunnah, walaupun mereka ahlul-millah, ahli qiblah (umat Islam). Dikarenakan al-Asya’irah dan Maturidiyah itu menyelisihi Ahlussunnah Wal-Jama’ah” ( lihat Majalah As-Sunnah, edisi 01/tahun XII, April 208, hal. 35).
Ungkapan di atas adalah sebuah fitnah dan penipuan besar terhadap Asy’ariyyah, sebab tidak seorang pun dari ulama yang menyatakan hal seperti itu kecuali kaum Usil & Jahil.
Hal ini lebih di sebabkan Metode Imam Asy’ari yg meyakini adanya Ayat-ayat Mutasyabihat, yg harus di takwil sesuai ayat Laisa Kamistlihi Syaiun
Namun anehnya, Syeikh Super Man mereka, Ya’ni Ibnu Taymiyyah dalam menuturkan tentang Asy’ariyyah, pernah berkata :
والعلماء أنصار علوم الدين والأشاعرة أنصار أصول الدين ( الفتاوى الجزء الرابع)
“PARA ULAMA ADALAH PEMBELA ILMU AGAMA DAN AL-ASYA’IRAH PEMBELA DASAR-DASAR AGAMA (USHULUDDIN) “ (AL-FATAAWAA, JUZ 4)
Secara tidak langsung Ibnu Taimiyah masih mengakui Asy’ariyyah termasuk bagian dari Ahlussunnah Wal-Jama’ah terutama pada pendapat-pendapat yang ia anggap sejalan dengan prinsip al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ ulama salaf.
Sedangkan kaum Salafi & Wahabi belakangan lebih cenderung menganggap Asy’ariyyah sebagai aliran sesat yang bukan termasuk Ahlussunnah Wal-jama’ah.
Perhatikanlah pernyataan para ulama berikut ini:
إِذَا أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ فَالْمُرَادُ بِهِ اْلأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ (إتحاف سادات المتقين، محمد الزبدي، ج. 2، ص. 6)
“Apabila disebut nama Ahlussunnah secara umum, maka maksudnya adalah Asya’irah (para pengikut faham Abul Hasan al-Asy’ari) dan Maturidiyah (para pengikut faham Abu Manshur al-Maturidi” (Ithaf Sadat al-Muttaqin, Muhammad Az-Zabidi, juz 2, hal. 6.).
وأما حكمه على الإطلاق وهو الوجوب فمجمع عليه في جميع الملل وواضعه أبو الحسن الأشعري وإليه تنسب أهل السنة حتى لقبوا بالأشاعرة ( الفواكه الدواني، أحمد النفراوي المالكي، دار الفكر، بيروت، 1415، ج: 1 ص 38):
“Adapun hukumnya (mempelajari ilmu aqidah) secara umum adalah wajib, maka telah disepakati ulama pada semua ajaran. Dan penyusunnya adalah Abul Hasan Al-Asy’ari, kepadanyalah dinisbatkan (nama) Ahlussunnah sehingga dijuluki dengan Asya’irah (pengikut faham Abul Hasan al-Asy’ari)” (Al-Fawakih ad-Duwani, Ahmad an-Nafrawi al-Maliki, Dar el-Fikr, Beirut, 1415, juz 1,hal. 38).
كذلك عند أهل السنة وإمامهم أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي (الفواكه الدواني ج: 1 ص: 103  )
“Begitu pula menurut Ahlussunnah dan pemimpin mereka Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi” (Al-Fawakih ad-Duwani, juz 1 hal. 103)
وأهل الحق عبارة عن أهل السنة أشاعرة وماتريدية أو المراد بهم من كان على سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فيشمل من كان قبل ظهور الشيخين أعني أبا الحسن الأشعري وأبا منصور الماتريدي (حاشية العدوي، علي الصعيدي العدوي، دار الفكر، بيروت، 1412 ج 1، ص.151  )

“Dan Ahlul-Haqq (orang-orang yang berjalan di atas kebenaran) adalah gambaran tentang Ahlussunnah Asya’irah dan Maturidiyah, atau maksudnya mereka adalah orang-orang yang berada di atas sunnah Rasulullah Saw., maka mencakup orang-orang yang hidup sebelum munculnya dua orang syaikh tersebut, yaitu Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi” (Hasyiyah Al-’Adwi, Ali Ash-Sha’idi Al-’Adwi, Dar El-Fikr, Beirut, 1412, juz 1, hal. 105).
والمراد بالعلماء هم أهل السنة والجماعة وهم أتباع أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي رضي الله عنهما (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح، أحمد الطحطاوي الحنفي، مكتبة البابي الحلبي، مصر، 1318، ج. 1، ص4 ).
“Dan yang dimaksud dengan ulama adalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah, dan mereka adalah para pengikut Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi radhiyallaahu ‘anhumaa (semoga Allah ridha kepada keduanya)” (Hasyiyah At-Thahthawi ‘ala Maraqi al-Falah, Ahmad At-Thahthawi al-Hanafi, Maktabah al-Babi al-Halabi, Mesir, 1318, juz 1, hal. 4).
PERNYATAAN PARA ULAMA DI ATAS MENUNJUKKAN BAHWA TUDUHAN DAN FITNAHAN KAUM USIL WAL JAHIL TERHADAP ASY’ARIYYAH ADALAH TIDAK BENAR DAN MERUPAKAN KEBOHONGAN YANG DIADA-ADAKAN.
DI SATU SISI MEREKA MENGELIMINASI (MENIADAKAN) ASY’ARIYYAH
DARI DAFTAR KUMPULAN AHLUSSUNNAH WAL-JAMA’AH, DI SISI LAIN MEREKA MALAH DENGAN YAKINNYA MENYATAKAN DIRI SEBAGAI KELOMPOK AHLUSSUNNAH WAL-JAMA’AH YANG SEBENARNYA.

Saturday, 3 March 2012

Sikap Imam Ghozali Dalam Masalah Khilafiyah

Oleh : Sultan mahesa jenar
PENDAPAT IMAM GHOZALI TERHADAP MASALAH KHILAFIYAH
 
Masalah Khilafiyah
Masalah Khilafiyah (perbedaan pendapat) yang timbul pada saat ini, telah diprediksikan oleh Imam Ghozali. Menurut Imam Ghazali perdebatan pada masalah perbedaan pendapat dikalangan para ulama’ adalah hal yang tidak pernah dilakukan oleh para ulama’ terdahulu. Imam Ghozali mengingatkan manusia agar menjauhi masalah perdebatan atau khilafiyyah sebagaimana menjauh dari racun yang berbahaya. Hal ini dapat menimbulkan penyakit yang membawa para fuqoha’ untuk berlomba-lomba mencari popularitas.

Mereka Menyebar Kebohongan Aqidah Dengan Membawa Nama Imam Abu Khanifah

Mereka Menyebar Kebohongan Aqidah dengan Membawa Nama Imam Abu KhanifahDalam berbagai media, sering kita dapati beberapa tulisan yang mendiskriditkan faham2 yg selama ini telah di jalankan dan di Yakini oleh Mayoritas Kaum Muslimin dengan menuqil2 dan bahkan memalsukan Nama Imam Madzhab tanpa adanya penyelidikan lebih lanjut sesuai slogan yg sering di kumandangkan yaitu “Kembali kepada Al Quran dan Hadits yang Sahih sesuai Pemahaman salafussalih”.

Saturday, 25 February 2012

Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma'na Bid’ah

Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma'na Bid’ah Peryataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid'ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid'ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari Al-Qur'an dan as-Sunah. Adapun maulid  walaupun suatu yang baru di dalam Islam akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur'an dan as-Sunah.

Praktik Bid'ah Hasanah para Sahabat Setelah Rasulullah Wafat

Praktik Bid'ah Hasanah para Sahabat Setelah Rasulullah Wafat Para sahabat sering melakukan perbuatan yang bisa digolongkan ke dalam bid'ah hasanah atau perbuatan baru yang terpuji yang sesuai dengan cakupan sabda Rasulullah SAW:


مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Siapa yang memberikan contoh perbuatan baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun. (HR Muslim)

Imam Syafi’i (150 – 204 H)


Imam Syafi’i (150 – 204 H)
Imam Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 H. (767 M) di Ghaza, Palestina, dan meninggal dunia pada hari Kamis malam Jum’at tanggal 29 Rajab 204 H (20 Januari 820M) di Pusthat, Mesir.
Para penulis biografi Imarn Syafi’i sepakat mengenai tahun kelahirannya, dan pada tahun itu pula Imam Abu Hanifah wafat di Bagdad. Tetapi mereka berbeda pendapat mengenai tempatnya. Ada tiga nama tempat atau daerah yang disebut-sebut, yaitu Ghazza(h), ‘Asqalan, Yaman. Ghazzah dan ‘Asqalan kebetulan

Tuesday, 21 February 2012

Benarkah Allah berada di langit berdasarkan hadits shahih?!


Sebagian kawan kita yang menyatakan Allah berada di langit atau bersemayam di atas `arsy berdalil dengan sebuah hadits yang menceritakan tentang kisah seorang budak wanita yang berdialog dengan Rasul Saw.. Dalam hadits tersebut  Rasul Saw. melakukan dialog untuk mengetahui keimanan atau indikasi yang menunjukkan bahwa budak wanita yang dimaksud sudah beriman atau belum? Budak dimaksud apakah telah memenuhi persyaratan untuk bisa menjadi kafarah, berupa pembebasan seorang budak beriman bagi muslim yang melanggar perbuatan tertentu di dalam syariat atau tidak?!

Monday, 20 February 2012

Apakah mungkin Allah tidak berada di langit dan Allah tidak bertempat???

Barangkali saat ini masih ada yang bingung dengan keberadaan Allah. Merekapun bertanya dimana sich Allah sebenarnya? Kok kita punya Tuhan yang Maha Segala-galanya, tapi keberadaanNya tidak diketahui?! Sehingganya merekapun kadang berkomentar, “Tidak bisa dipahami bahwa ada yang maujud tapi tidak menempati satu tempat pun?”

Sebelum menjawab pertanyaan mereka, mari kita renungi dua ayat berikut:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Ayat ini dengan tegas menjelaskan bahwa Allah berbeda dengan makhluqNya.

Memahami Allah Istiwa` Di atas `Arsy

Barangkali ada yang yang menduga bahwa saya tidak mengimani istiwa`.  Pada tulisan ini saya tegaskan bahwa mazhab Asyairah adalah mazhab yang mengakui segala sifat Kamal (kesempurnaan) bagi Allah dan menafikan  (mengingkari) segala sifat lemah dan aib bagi Allah.

Dalam masalah istiwa  mazhab kami, mazhab `Asyairah menyatakan:

Benarkah Al Qur`an menyatakan Allah berada di langit atau diatas `Arsy?!


Jikalau sebagian kawan-kawan ketika mendakwa bahwa Al Quran menyatakan bahwa Allah berada di atas arsy dan atau diatas langit. Dakwaan mereka bermula dari pemahaman tekstual terhadapi QS: Thaahaa: 5
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
dan ayat semisalnyal, kemudian menyimpulkan bahwa Allah berada di atas `arsy atau berada di atas langit. Jikalau demikian titik tolok memahaminya, mari kita perhatikan sebagian ayat-ayat Al Qur`an di bawah ini dan kita pahami secara tekstual juga. Apakah ayat-ayat berikut singkron dengan pemahaman mereka atau justru terjadi kotradiktif:

1.    QS: An Nahal: 128:

إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.
2.    QS: Al Ankabut: 69

وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Jika kita lihat 2 ayat di atas secara tekstual, maka akan kita pahami bahwa Allah secara Zat bersama mereka yang bertaqwa dan berbuat baik. Berarti Allah turun dari `arsy?!
3.    QS: Al Hadid: 4

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.
Pada satu ayat yang sama Allah menyatakan bahwa Allah berada di atas `arsy dan di akhir ayat Allah menyatakan bahwa Allah berada bersama hambaNya di mana saja hambaNya berada.
4.    QS; Al Mujadilaah: 7

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِن ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا
Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada.
Jikalau kita pahami secara tekstual Allah adalah ke 4 diantara 3 orang dan Allah adalah yang ke 6 diantara 5 orang yang berbicara. Dan Allah bersama mereka dimana saja mereka berada.
5.    QS: Al Baqarah: 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
6.    QS: Qaaf: 16

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,
7.    QS: Al Waqi`ah: 85

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لَّا تُبْصِرُونَ
Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat,
Jikalau kita pahami secara tekstual 3 ayat di atas, maka Allah sangat dekat sekali dengan kita, bagaimana mungkin berada di atas `arsy yang jauh dari kita, bahkan kita tidak tahu `arsy itu sendiri dimana. Langit itu sendiri entah dimana, yang jelas nun jauh lebih jauh dari pandangan mata kita!
8.    QS:Al An`am: 3

وَهُوَ اللّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الأَرْضِ
Dan Dialah Allah, baik di langit maupun di bumi;
9.    QS: Al Zukhruf: 84

وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاء إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ
Dan Dia-lah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Bukankah dua ayat di atas menjelaskan bahwa Allah ada di langit dan di bumi, bukan hanya di langit saja atau di atas `arsy!
10.    QS: Al `Alaq: 19

كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan),
Bukankah Allah menyuruh kita bersujud kemudian mendekat kepada Nya?! Apakah mungkin kita disuruh sujud dan disuruh mendekat sementara Allah jauh di atas arsy atau di atas langit?!
11.    QS: Maryam: 52

وَنَادَيْنَاهُ مِن جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ
Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur
12.    QS: Al Qashash: 30

 نُودِي مِن شَاطِئِ الْوَادِي الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَن يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam,
Pada dua ayat di atas dari mana kah Allah menyeru Nabi Musa?! Apakah Allah menyeru dari langit atau dari aats `arsy?!
13.    QS: Al Baqarah: 115

فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ
Maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah.
Kemanapun kita menghadap, ada Allah, kita mendapatiNya selalu, bukan hanya saat menengadahkan tangan ke langit!
14.    QS: Al Ra`d: 2

اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan.
Di ayat ini baru dijelaskan bahwa Allah berada di atas arsy.
Kesimpulan
Jikalau ayat-ayat diatas dipahami keseluruhan secara tekstual, maka akan kita pahami bahwa kebanyakan ayat justru menjelaskan Allah berada di bawah, di alam ini, bukan berada di atas langit atau di atas `arsy. Meskipun sebagiannya tetap menegaskan Allah berada di langit. Ini artinya secara sekilas nampak kotradiktif tentang tempat keberadaan Allah sesungguhnya. Saya yakin sahabat-sahabat saya tidak akan mengambil sebagian ayat al Qur`an dan mengabaikan sebagian yang lain. Karena ini bukan ciri-ciri seorang muslim yang baik, apalagi dikatakan sebagai manhaj salaf!
Saya juga yakin, bahwa kita tidak akan mengambil makna secara zahirnya (makna yang langsung di pahami dari lafaz), karena akan menyebabkan kita menyatakan Allah berada pada beberapa tempat yang disebutkan oleh ayat. Berarti tidak ada jalan lain selain;
1. Tafwidl (takwil ijmaly/global), mengimani bahwa apa yang disampaikan oleh Allah dan Rasul Saw adalah haq, makna yang mereka maksudkan adalah haq, dan kita tidak memaksa diri untuk mengetahuinya secara rinci, namun kita mesti menafikan makna yang dipahami secara langsung dari tekstual.
2. Takwil tafshily (takwil secara rinci), memahami setiap nash yang bermakna ambigu untuk Al Khaliq dan makhluq, dengan makna yang sesuai dengan bahasa arab dan sifat yang layak bagi Allah. Karena setiap nama berasal dari bahasa atau langsung dari syariat.
Tentu saja kita tidak akan melakukan takwil kepada sebagian ayat dan menghalangi sebagian ayat sesuai dengan kehendak kita.
Menurut Ibnu Al Jauzy di dalam kitab Daf`u Syubhatu Al Tasybih, kesalahan kelompok musyabihhah dan mujassimah dalam memahami sifat khabariyah, seperti tentang istiwa` , disebabkan karena;
1. Mereka menamakan khabar-khabar dengan khabar sifat, padahal realitanya hanyalah sebagai idhafat (penyandaran). Secara kaidah dijelaskan bahwa tidak semua idhafah bermakna sifat. Perhatikanlah Allah berfirman :
ونفخت فيه من روحى
“Aku meniupkan kepadanya ruhKu”
Di sini jelas bahwa ada idhafah Allah dengan ruh. Akan tetapi tidak ada yang mengatakan bahwa Allah memiliki sifat ruh.
2. Mereka menyatakan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan adalah hadits mutasyabihat, yang tidak diketahui makna dan maksudnya kecuali oleh Allah. Namun kemudian mereka menafsirkannya dengan makna yang zhahir! Sangat mengherankan sekali, hal yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, akan tetapi zhahir bagi mereka! Bukankah makna zhahir dari kalimat استواء (bersemayam) kecuali bermakna القعود (duduk) ?! dan kalimat النزول (turun) tidak dipahami, kecuali bermakna الانتقال (perpindahan) ?!
3. Mereka kemudian menetapkan pelbagai sifat bagi Allah, sedangkan sifat yang layak bagi Allah tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil yang layak untuk Zat Allah, yang bersifat qath`iy.
4. Di dalam masalah istbat  (mentapkan sifat), mereka tidak bisa membedakan, bahwa khabar ada yang bersifat khabar masyhur seperti:
ينزل تعالى الى سماء الدنيا
Allah turun ke langit dunia
Dan ada khabar yang tidak sahih, seperti: hadits  رأيت ربى فى أحسن صورة .
Aku melihat Tuhanku pada sebaik-baik bentuk.
Akan tetapi mereka justru menetapkan sifat bagi Allah dengan hadits masyhur dan hadits yang tidak sahih ini!
5. Mereka tidak bisa membedakan antara hadits yang marfu`  (bersambungan sanad) kepada Rasul Saw., dan hadits yang mauquf (terputus sanad hanya sampai) kepada sahabat dan tabi`in, namun mereka menetapkan sifat dengan kedua hadits tersebut.
6. Mereka mentakwil sebagian lafaz pada tempat-tempat tertentu, seperti hadits:
ومن أتانى يمشى اتيته هرولة
Dan barangsiapa yang mendatangi Ku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari.
Mereka mengatakan bahwa hadits ini adalah untuk menunjukkan makna Allah memberikan nikmat. Anehnya mereka tidak melakukan takwil pada tempat yang lain?!
7. Mereka memahami hadits-hadits berdasarkan pemahaman indrawi, oleh karena itu mereka berani mengatakan: “Allah turun dengan zatNya dan berpindah pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain”, kemudian mereka mengatakan “bukan sebagaimana yang difikirkan!” Mereka justru sudah duluan memikirkan dan membuat bingung orang-orang yang mendengar pernyataan mereka serta melumpuhkan indra dan akal mereka.
Wallahu a`lam
.comments { clear: both; margin-top: 10px; margin-bottom: 0px; line-height: 1em; } .comments .comments-content { font-size: 12px; margin-bottom: 16px; font-family: Verdana; font-weight: normal; text-align:left; line-height: 1.4em; } .comments .continue a, .comments .comment .comment-actions a { display:inline; font-family:Arial, Helvetica, sans-serif; font-size:12px; padding: 2px 5px; text-decoration: none; text-shadow:0 1px 1px rgba(0,0,0,.3); color:#FFF; -webkit-box-shadow: 0 1px 2px rgba(0,0,0,.2); -moz-box-shadow: 0 1px 2px rgba(0,0,0,.2); box-shadow: 0 1px 2px rgba(0,0,0,.2); -webkit-border-radius: 3px; -moz-border-radius: 3px; border-radius: 3px; margin-right: 10px; border: 1px solid #3079ED; background: #0066FF; background: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, from(#0099FF), to(#009999)); background: -moz-linear-gradient(top, #0099FF, #009999); filter: progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(startColorstr='#0099FF', endColorstr='#009999'); } .comments .continue a:hover, .comments .comment .comment-actions a:hover { text-decoration: none; background:#0099FF; background: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, from(#009999), to(#0099FF)); background: -moz-linear-gradient(top, #009999, #0099FF); filter: progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(startColorstr='#009999', endColorstr='#0099FF'); } .comments .continue a:active, .comments .comment .comment-actions a:active { position: relative; top:1px; background: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, from(#0066FF), to(#0099CC)); background: -moz-linear-gradient(top, #0066FF, #0099CC); filter: progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(startColorstr='#0066FF', endColorstr='#0099CC'); } .comments .comments-content .comment-thread ol { list-style-type: none; padding: 0; text-align: none; } .comments .comments-content .inline-thread { padding: 0.5em 1em 0 1em; } .comments .comments-content .comment-thread { margin: 8px 0px 0px 0px; } .comments .comments-content .comment-thread:empty { display: none; } .comments .comments-content .comment-replies { margin-top: 1em; margin-left: 40px; font-size:12px; } .comments .comments-content .comment { padding-bottom:8px; margin-bottom: 0px } .comments .comments-content .comment:first-child { padding-top:16px; } .comments .comments-content .comment:last-child { border-bottom:0; padding-bottom:0; } .comments .comments-content .comment-body { position:relative; } .comments .comments-content .user { font-style:normal; font-weight:bold; } .comments .comments-content .user a { color: #444; } .comments .comments-content .user a:hover { text-decoration: none; color: #555; } .comments .comments-content .icon.blog-author { width: 18px; height: 18px; display: inline-block; margin: 0 0 -4px 6px; } .comments .comments-content .datetime { margin-left:6px; color: #999; font-style: italic; font-size: 11px; float: right; } .comments .comments-content .comment-content { font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12.5px; line-height: 19px; } .comments .comments-content .comment-content { font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12.5px; line-height: 19px; text-align:none; margin: 15px 0 15px; } .comments .comments-content .owner-actions { position:absolute; right:0; top:0; } .comments .comments-replybox { border: none; height: 250px; width: 100%; } .comments .comment-replybox-single { margin-top: 5px; margin-left: 48px; } .comments .comment-replybox-thread { margin-top: 5px; } .comments .comments-content .loadmore a { display: block; padding: 10px 16px; text-align: center; } .comments .thread-toggle { cursor: pointer; display: inline-block; } .comments .comments-content .loadmore { cursor: pointer; max-height: 3em; margin-top: 3em; } .comments .comments-content .loadmore.loaded { max-height: 0px; opacity: 0; overflow: hidden; } .comments .thread-chrome.thread-collapsed { display: none; } .comments .thread-toggle { display: inline-block; } .comments .thread-toggle .thread-arrow { display: inline-block; height: 6px; width: 7px; overflow: visible; margin: 0.3em; padding-right: 4px; } .comments .thread-expanded .thread-arrow { background: url("data:image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAAAc AAAAHCAYAAADEUlfTAAAAG0lEQVR42mNgwAfKy8v/48I4FeA0AacVDFQBAP9wJkE/KhUMAAAAAElFTkSuQmCC") no-repeat scroll 0 0 transparent; } .comments .thread-collapsed .thread-arrow { background: url("data:image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAA AcAAAAHCAYAAADEUlfTAAAAJUlEQVR42mNgAILy8vL/DLgASBKnApgkVgXIkhgKiNKJ005s4gDLbCZBiSxfygAAAAB JRU5ErkJggg==") no-repeat scroll 0 0 transparent; } .comments .avatar-image-container { float: left; overflow: hidden; } .comments .avatar-image-container img { width: 36px; } .comments .comment-block { margin-left: 48px; position: relative; padding: 15px 20px 15px 20px; background: #F7F7F7; border: 1px solid #E4E4E4; overflow: hidden; border-radius: 4px; -moz-border-radius: 4px; -webkit-border-radius: 4px; border-image: initial; }